Mahfud MD: Proyek Pesawat Tempur KFX/IFX dengan Korea Tetap Dilanjutkan
“Khusus KFX/IFX itu kita sedang dalamilah, kita pelajari. Sebetulnya manfaatnya kita dapat apa juga? itu kan penting. Karena itu kan teknologi tinggi,” kata Wakil Menteri Pertahanan, Sakti Wahyu Trenggono, beberapa waktu lalu.
Sakti pun tak menjelaskan lebih detail kajian yang dilakukan Kemhan itu. Namun, dia meyakini pengadaan pesawat ini penting agar Indonesia menjadi negara kuat. “Tapi ini masih dalam proses pertimbangan dan kajian. Karena yang namanya pesawat tempur itu tidak sembarangan juga loh. Nah di level mana kita nanti dan kita sampai punya kemampuan seperti apa, itu juga. Karena nilainya mahal. Sampai 2 miliar dolar AS,” katanya.
Proyek pengembangan pesawat tempur KFX/IFX sempat tertunda sejak 2009. Kemudian, pada 7 Januri 2016, Indonesia dan Korea Selatan menandatangani cost share agreement atau kesepakatan pembagian tanggungan biaya terkait proyek pertahanan itu.
Terdapat tiga fase pembuatan KF-X/IF-X. Ketiaga fase tersebut yakni pengembangan teknologi atau pengembangan konsep; pengembangan rekayasa manufaktur atau pengembangan prototipe, dan; proses produksi massal. Targetnya, pada 2020 pesawat tempur sudah bisa diproduksi dan pada 2025 diharapkan sudah bisa beroperasi.
KFX/IFX adalah proyek jangka panjang Indonesia dan Korsel. Total investasi kedua negara mencapai 8 miliar dolar AS. Proyek ini akan melibatkan APBN masing-masing negara. Dalam kerja sama ini, pemerintah Korea menanggung 60 persen biaya pengembangan pesawat, sisanya ditanggung KAI (perusahaan pembuat pesawat Korea) 20 persen, sementara pemerintah Indonesia hanya 20 persen.
Editor: Ahmad Islamy Jamil