Menag: Pelaksanaan Hari Raya Merujuk Waktu Lokal

Felldy Utama ยท Selasa, 21 Agustus 2018 - 21:29 WIB
Menag: Pelaksanaan Hari Raya Merujuk Waktu Lokal

Menag Lukman Hakim Saifuddin. (Foto: Antara)

MAKKAH, iNews.id - Perbedaan waktu pelaksanaan awal puasa Ramadan dan dua hari raya bagi umat Islam antara satu negara dengan yang lain tidak perlu diperdebatkan. Hal itu sudah biasa terjadi berdasarkan alasan syariat dalam ajaran Islam.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, untuk ibadah terutama salat dan puasa merujuk pada waktu lokal. “Sehingga perbedaan waktu, jam termasuk hari, kita mengikuti wilayah di mana kita berada,” ungkap Menag di Kantor Daker Makkah Al Mabrur, Makkah, Arab Saudi, seperti dilansir kemenag.go.id, Selasa (21/8/2018).

Sebagai contoh, waktu pelaksanaan Idul Adha tahun ini di Indonesia berbeda dengan di Arab Saudi serta beberapa negara berpenduduk Islam lainnya. Berdasarkan penetapan 1 Zuhijah 1439 Hijriah oleh Pemerintah Arab Saudi lebih cepat satu hari di banding Indonesia yaitu tanggal 12 Agustus 2018. Sementara hasil sidang penetapan 1 Zulhijah 1439 oleh Pemerintah Indonesia jatuh pada tanggal 13 Agustus 2018.

Dengan begitu, Idul Adha di Arab Saudi jatuh pada tanggal 21 Agustus 2018 atau 10 Zulhijah 1439 H sedangkan di Tanah Air baru dirayakan pada Rabu, 22 Agustus 2018. Kenapa perbedaan tersebut terjadi?

Salah satu alasannya yaitu waktu perayaan hari raya atau awal puasa Ramadan ditentukan di negara masing-masing berdasarkan rukyatul hilal. Perbedaan tersebut bisa saja terjadi jika posisi hilal di Indonesia belum kelihatan, sementara di Arab Saudi sudah terlihat di atas 2 derajat.

Senada dengan Menag, anggota Amirul Hajj yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Informasi dan Komunikasi, KH Ahmad Baedlowi mengatakan, Saudi dan Indonesia sebenarnya menggunakan sistem yang sama yakni rukyatul hilal.

"Hanya saja untuk posisi hilal di Saudi sudah di atas 2 derajat sehingga memungkinkan terlihat, sementara di Indonesia di bawah 0 derajat, tidak mungkin terlihat,” ujarnya.

Kiai Baidlowi menambahkan, wilayatul hukmi Indonesia mencakup anggota MABIMS yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura. “Tidak bisa kemudian kita mengikuti konsep rukyatul hilal global karena masing-masing wilayah ada mathla’ (tempat terbitnya hilal) nya sendiri,” katanya.

Meski begitu, sejumlah umat Islam di Tanah Air sudah melaksanakan salat Idul Adha pada Selasa (21/8/2018). Atas perbedaan tersebut, MUI berharap umat bisa menerima perbedaan itu dengan dewasa, sikap tasamuh, dan saling menghormati.

”Kami mengharapkan kepada umat Islam untuk bisa menerima perbedaan Idul Adha 1439 H dengan sikap dewasa, tasamuh, toleran, dan saling menghargai pendapat masing-masing,” kata Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa'adi.


Editor : Azhar Azis