Mendiskusikan Resilience Leadership Bersama Angela Tanoesoedibjo, Disa Novianty dan Hendra Lembong di Makassar Leadership Summit 2026
“Transformasi itu seperti membangun kembali rumah ketika kita masih tinggal di dalamnya. Existing business tetap harus deliver, sementara pada saat yang sama kita mengubah cara kerja, mengembangkan people, mencoba pendekatan baru, dan terus belajar. Karena itu resilience bukan hanya soal bertahan menghadapi tekanan, tetapi kemampuan untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan arah,” ujarnya.
Dalam proses tersebut, Angela menilai data, kreativitas, dan keberanian untuk bereksperimen memiliki peran yang sama pentingnya.
“Data membantu kita mengambil calculated risk, tetapi data saja tidak akan menciptakan sesuatu yang baru. Kita tetap membutuhkan kreativitas dan keberanian untuk mencoba. Dan ketika kita meminta tim untuk bereksperimen, leadership juga harus siap memberikan support dan berdiri di belakang mereka ketika hasilnya belum langsung sempurna,” kata Angela.
Perspektif tersebut bertemu dengan pandangan Disa Novianty mengenai bagaimana pemimpin menjaga arah organisasi ketika tekanan meningkat. Menurut Disa, resilience tidak semata-mata berarti kemampuan untuk bertahan, tetapi juga menjaga kejelasan dalam menentukan langkah.
“Resilience bukan hanya soal bertahan ketika menghadapi tekanan. Pemimpin perlu memiliki clarity, agility, dan komunikasi yang jujur untuk menentukan apa yang harus dipertahankan dan apa yang perlu diubah,” kata Disa.