Menerka Sebab Musabab Sandi Sakit Usai Pilpres 2019

Djibril Muhammad ยท Jumat, 19 April 2019 - 15:42 WIB
Menerka Sebab Musabab Sandi Sakit Usai Pilpres 2019

Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel. (Foto: Sindo)

JAKARTA, iNews.id - Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno sakit usai menjalani kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, yang digelar bersamaan dengan pemilihan legislatif (pileg). Bahkan, Sandi saat ini sedang dirawat di rumah sakit.

Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel memiliki analisa terkait sakitnya Sandi. Dia menduga, sakitnya Sandi karena faktor kelelahan itu merupakan hal yang wajar.

"Kampanye di ribuan lokasi boleh jadi mengorbankan keteraturan tidur, pola makan, dan kebiasaan-kebiasaan positif lainnya. Tubuh pun akhirnya tidak lagi mau diajak berkompromi. Enough is enough. Jatuh sakitlah si empunya badan," tuturnya kepada iNews.id, di Jakarta, Jumat (19/4/2019).

Sandi yang ternyata juga bisa sakit, menurut dia, sebenarnya tidak berbeda dengan Hillary Clinton. Kontestan dari Partai Demokrat itu bahkan terkapar dan harus menjalani bed rest pada masa seputar Pilpres Amerika Serikat pada 2016.

"Konsekuensinya runyam: Trump mempertanyakan ketahanan dan kelayakan Hillary, baik secara fisik maupun mental, untuk menduduki kursi presiden negara adidaya itu," katanya.

Dampak lainnya, Reza menambahkan, tidak melulu kondisi fisik yang terganggu. Gangguan psikologis nan serius juga diderita sekian banyak pemimpin besar.

Ekspresi Sandiaga Salahuddin Uno saat Prabowo Subianto mendeklarasi kemenangan berdasarkan survei internal 62 persen. (Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso)

Dia mengungkapkan, Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, adalah salah satunya. Bertahun-tahun setelah Churchill mangkat, barulah dokter pribadi Churchill, yakni Charles Wilson, menyebut sang perdana menteri sebenarnya mengidap depresi serius.

"Churchill mengatasi depresinya dengan menenggak wiski dan mengepulkan cerutu. Ia terkena serangan jantung, pneumonia, dan strok berulang kali," ujarnya.

Bung Karno, Reza mengatakan, juga pernah melalui masa serupa. Pada 1965 sempat terjadi kegemparan karena Bung Karno dikabarkan muntah-muntah jatuh pingsan beberapa kali.

Soebandrio, sekian puluh tahun kemudian, menulis Bung Karno sebatas masuk angin. Namun, juga ada versi lain yakni, tim dokter dari Cina menyatakan sang Pemimpin Besar Revolusi akan 'lewat' jika terlambat ditangani.

Ekspresi Sandiaga Salahuddin Uno saat Prabowo Subianto mendeklarasi kemenangan berdasarkan survei internal 62 persen. (Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso)

"'Ajaib'-nya, pada saat menyampaikan pidato Hari Kemerdekaan tahun itu juga, Bung Karno sudah kembali berkobar-kobar gagah," kata orang Indonesia pertama yang mendapat gelar Master Psikologi Forensik ini.

"Koruptor doyan melakukan malingering (pura-pura sakit). Penguasa dan calon penguasa, sebaliknya, kudu memunculkan kesan sehat (dissimulation). Sah sudah; sehat atau pun pura-pura sehat dan sakit atau pun pura-pura sakit bukan hanya masalah medis, tapi juga urusan kehumasan," tutur Reza.

Sebelumnya, koordinator Juru Bicara (Jubir) Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, Sandi sedang menjalani proses medis. Di antaranya, pemeriksaan darah dan pemeriksaan kondisi tubuh lainnya.

"Jadi Bang Sandi hari ini beliau langsung ke rumah sakit sekitar sini," ujar Dahnil di lokasi doa bersama, di depan Rumah Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019).


Editor : Djibril Muhammad