Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Transplantasi Hati Jadi Harapan Hidup Pasien Sirosis di Indonesia, Begini Kata Wamenkes
Advertisement . Scroll to see content

Mengejutkan! Sirosis Hati Jadi Pembunuh Nomor 3 di Indonesia

Jumat, 10 April 2026 - 19:21:00 WIB
Mengejutkan! Sirosis Hati Jadi Pembunuh Nomor 3 di Indonesia
Sirosisi hati berada di posisi ketiga sebagai penyebab kematian terbesar di Indonesia, dengan pemicu utama berasal dari infeksi hepatitis B. (Foto: Ilustrasi/AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Fakta mengejutkan terungkap bahwa penyakit sirosis masuk dalam tiga besar penyebab kematian. Kondisi tersebut memperlihatkan betapa seriusnya ancaman penyakit hati yang kerap datang tanpa gejala.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan transplantasi hati merupakan terapi terakhir bahkan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pasien dalam kondisi tertentu. Pernyataan itu disampaikan saat dia meninjau langsung layanan transplantasi di RSUP Fatmawati.

“Transplantasi ini penting karena beberapa penyakit yang ada itu terapi definitifnya atau terapi terakhirnya atau terapi satu-satunya untuk menyelamatkan hidupnya adalah dengan melakukan transplantasi,” kata Dante.

Dia mengungkap sirosis hati memiliki angka kematian tinggi di Indonesia. Bahkan, penyakit ini berada di posisi ketiga sebagai penyebab kematian terbesar, dengan pemicu utama berasal dari infeksi hepatitis B.

“Sirosis hepatis atau cirosis hati ini menemati ulutan ketiga kematian terbesar di Indonesia. Dan kebanyakan karena infeksi hepatitis B,” ujarnya.

Kondisi ini menjadi alarm keras bagi masyarakat karena banyak pasien baru mengetahui penyakitnya saat sudah memasuki tahap lanjut. Akibatnya, pilihan pengobatan menjadi sangat terbatas.

Transplantasi hati pun menjadi solusi yang paling efektif bagi pasien penyakit hati kronik. Pemerintah telah menyiapkan tiga rumah sakit rujukan yang mampu melakukan prosedur tersebut, yakni RS Cipto Mangunkusumo, RSUP Dr Sardjito, dan RSUP Fatmawati.

Dante juga membagikan kisah nyata pasien yang berhasil menjalani transplantasi hati. Pasien berusia 52 tahun itu kini dalam kondisi stabil setelah menerima donor dari anak kandungnya.

“Saya baru saja mengunjungi pasiennya dan pasiennya sudah dalam kondisi stabil. Pasien berusia 52 tahun. Donornya adalah anaknya sendiri yang berusia 26 tahun,” kata dia.

Dia memastikan kualitas layanan transplantasi hati di Indonesia sudah sangat memadai. Selain didukung tim dokter spesialis yang lengkap, pembiayaan juga bisa ditanggung BPJS Kesehatan.

“Timnya sudah lengkap, dokter bedah digestifnya saja saya hitung yang ikut itu ada lima ya, ada lima dokter bedah digestif yang ikut dalam proses transplantasi hepar ini,” ujar dia.

Fasilitas yang semakin canggih, transplantasi hati kini bukan lagi mimpi. Pemerintah berharap masyarakat tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri karena layanan di dalam negeri sudah mampu menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut