Mengenal 3 Bersaudara RA Kartini, Kardinah dan Rukmini, Pejuang Kesetaraan Perempuan

Mirsya Anandari Utami ยท Senin, 15 Agustus 2022 - 05:26:00 WIB
Mengenal 3 Bersaudara RA Kartini, Kardinah dan Rukmini, Pejuang Kesetaraan Perempuan
Kartini, Kardinah dan Rukmini (FOTO/UGM/Wikimedia Commons)

JAKARTA, iNews.id - Jika mendengar kata 'emansipasi', sosok Kartini lebih sering terlintas di pikiran banyak orang. Padahal selain Kartini ada dua sosok lain yang sama-sama ikut berjuang dalam menyetarakan hak perempuan. Mereka adalah Rukmini dan Kardinah.

Ketiga bersaudara ini berjuang bersama membawa pandangan baru di masyarakat. Meski lahir dari ibu yang berbeda, ketiga bersaudara ini sangat kompak. Bahkan ketiganya mendapat julukan Het Klaverblad atau Daun Semanggi. 

RA Kartini

Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia memperingati hari kelahirannya. Dikenal sebagai pahlawan emansipasi, Kartini menyuarakan kesetaraan hak perempuan.

Raden Ajeng Kartini merupakan putri dari Bupati Jepara bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah. Karena berasal dari keluarga bangsawan, Kartini dapat mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School. Sayang, pendidikannya harus terhenti karena harus menjalani pingit.

Melihat nasib para perempuan yang selalu terkurung dan terbelakang, timbul keinginan Kartini untuk melawan.

Pada 12 November 1903, Kartini menikah dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Walaupun sudah menikah, perjuangannya terus berlanjut. Beruntung, sang suami mendukung perjuangan Kartini dalam mendirikan sekolah khusus perempuan.

RA Kardinah

Kartini dan Kardinah lahir dari ibu yang sama. Kardinah merupakan adik dari RA Kartini. Saat muda, Kardinah bersama kedua saudaranya bersama-sama menyuarakan hak-hak perempuan.

Mereka telah melewati banyak hari bersama, terutama saat masa pingitan. Dari ketiga bersaudara tersebut, Kardinah yang pertama menikah. Dia menikah dengan Ario Reksonegoro X yang kala itu menjadi Patih Pemalang. Setelah sang suami menjadi Bupati Tegal, ia ikut diboyong ke kota itu.

Untuk melanjutkan perjuangannya, Kardinah mendirikan sekolah khusus perempuan pribumi yang bernama Sekolah Kepandaian Putri Wisma Pranowo. Sekolah itu mengajarkan para perempuan pribumi berbagai hal seperti mengaji, membatik, bahasa belanda dan pendidikan watak.

Selain sekolah, Kardinah juga mendirikan sebuah rumah sakit yang dinamakan Rumah Sakit Kardinah dan sebuah perpustakaan bernama Panti Sastra.

Editor : Reza Fajri

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel:








Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda