Menkes Budi Ungkap Banyak Orang Indonesia Terindikasi Punya Kecenderungan Bunuh Diri
Catatan redaksi: Berita ini memuat informasi mengenai bunuh diri dan disajikan untuk kepentingan publik, khususnya untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan dan kesehatan mental. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami tekanan berat, memiliki pikiran untuk menyakiti diri atau bunuh diri, segera cari bantuan dari orang yang dipercaya atau tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.
JAKARTA, iNews.id - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan hasil skrining kesehatan jiwa. Pihaknya menemukan sejumlah orang di Indonesia terindikasi memiliki kecenderungan bunuh diri.
Temuan mengejutkan ini menjadi perhatian pemerintah dalam menyiapkan layanan kesehatan mental yang mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Menurut Menkes, skrining kesehatan jiwa dilakukan atas instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk memetakan kondisi kesehatan mental masyarakat. Sepanjang 2025, pemerintah telah melakukan pemeriksaan terhadap sekitar 70 juta penduduk melalui kuesioner.
Dari pemeriksaan tersebut, sekitar 7 juta orang tercatat terindikasi mengalami gangguan mental. Budi mengatakan, masalah kesehatan jiwa memiliki spektrum yang beragam, mulai dari gangguan kecemasan, depresi, hingga skizofrenia.
Selain mengidentifikasi berbagai jenis gangguan mental, skrining tersebut juga membantu pemerintah menemukan individu yang memiliki kecenderungan bunuh diri. Data individu yang teridentifikasi bahkan tercatat secara terperinci berdasarkan nama dan alamat.
"Tantangannya di kami, karena sudah ketemu kan, oh masalahnya sudah ketemu nih, yang mau bunuh diri berapa, ini berapa, sudah ketemu. Kami harus mempersiapkan infrastrukturnya karena perawatannya beda kan," kata Budi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (26/10/2026).
Menurut Budi, temuan dari skrining tersebut harus diikuti dengan kesiapan fasilitas dan layanan kesehatan. Sebab, setiap kondisi kesehatan mental membutuhkan penanganan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan pasien.
Kemenkes pun menyiapkan penguatan layanan kesehatan mental secara berjenjang, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit. Langkah ini dilakukan agar masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat memperoleh penanganan tanpa harus bergantung pada rumah sakit jiwa khusus.
Budi menegaskan, rumah sakit umum juga perlu memiliki kemampuan untuk menangani pasien dengan masalah kesehatan mental. Dengan demikian, akses terhadap layanan kesehatan jiwa diharapkan semakin luas.
"Mulai dari seluruh puskesmas, kemudian naik ke rumah sakit, terus ke atas. Kalau dulu hanya punya rumah sakit jiwa khusus, nanti kami akan bilang semua rumah sakit harus bisa menangani kesehatan mental. Karena kalau hanya rumah sakit jiwa enggak akan cukup," ujarnya.
Pemerintah kini menghadapi tantangan untuk memastikan temuan skrining tersebut ditindaklanjuti dengan layanan yang sesuai. Identifikasi dini diharapkan menjadi langkah awal agar masyarakat yang mengalami masalah kesehatan mental, termasuk mereka yang memiliki kecenderungan bunuh diri, dapat memperoleh bantuan yang dibutuhkan.
Editor: Muhammad Sukardi