Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : AS Ngotot Undang Putin ke KTT G20 meski Ditolak Negara-Negara Eropa, Ini Alasannya
Advertisement . Scroll to see content

Menlu Arrmanatha Bahas Konflik Global di G20, Ingatkan Pangan Tak Boleh Jadi Senjata

Minggu, 01 November 2026 - 18:10:00 WIB
Menlu Arrmanatha Bahas Konflik Global di G20, Ingatkan Pangan Tak Boleh Jadi Senjata
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Arrmanatha Nasir dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri G20 di Atlanta, Amerika Serikat, pada 30–31 Oktober 2026. (Foto: Dok. Kemlu)
Advertisement . Scroll to see content

ATLANTA, iNews.id - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Arrmanatha Nasir menegaskan pangan tidak boleh dijadikan senjata di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Pesan ini disampaikan dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri G20 di Atlanta, Amerika Serikat, pada 30–31 Oktober 2026.

Dalam pertemuan tersebut, Arrmanatha mengikuti tiga sesi pleno yang membahas ketegangan geopolitik, energi, dan rantai pasok. Indonesia menekankan bahwa ketahanan nasional, kawasan, dan global saling berkaitan sehingga membutuhkan kerja sama multilateral yang efektif.

“Ketahanan nasional memperkuat ketahanan kawasan, yang pada gilirannya memperkuat ketahanan global,” ucap Arrmanatha dalam keterangannya, Minggu (1/11/2026).

Dia juga menekankan pentingnya reformasi sistem multilateral agar lebih tepercaya, representatif, responsif, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Dalam sesi geopolitik, Arrmanatha menyoroti dampak konflik di Selat Hormuz, Laut Hitam, dan Laut Merah terhadap jalur perdagangan serta pasokan energi, pupuk, dan pangan global. Dampak tersebut dinilai sangat terasa bagi negara-negara berkembang.

“Pangan tidak boleh dijadikan senjata,” tuturnya.

Indonesia mendorong penyelesaian konflik melalui de-eskalasi, dialog, dan kerja sama. Dia juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap Konvensi Hukum Laut PBB atau UNCLOS 1982 sebagai landasan hukum internasional dalam menjaga kebebasan navigasi.

Indonesia turut mengangkat konsep Responsible Freedom of Navigation. Konsep ini menekankan bahwa kebebasan navigasi harus disertai tanggung jawab, sementara pelaksanaan kedaulatan perlu dilakukan dengan pengendalian diri.

Pada sesi energi, Arrmanatha menegaskan ketahanan energi merupakan bagian dari keamanan nasional. Indonesia terus memperkuat kemandirian energi melalui penerapan B50 dan program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt (GW).

“Krisis harus mempercepat transisi energi, bukan justru membalikkannya,” ucapnya.

Dia juga menekankan pentingnya transisi energi yang adil dan terjangkau. Hal itu dapat dilakukan melalui perluasan akses terhadap teknologi energi bersih serta pembiayaan dan investasi yang lebih mudah dijangkau negara berkembang.

Sementara itu, dalam sesi pleno mengenai rantai pasok, Indonesia menekankan pentingnya kepastian rantai pasok global dan penguatan sistem perdagangan multilateral.

Indonesia mengusulkan penguatan kesiapsiagaan menghadapi krisis dan kondisi darurat, penyediaan pembiayaan jangka panjang yang terjangkau, serta pembangunan kemitraan teknologi. Dengan demikian, negara berkembang diharapkan dapat berperan sebagai pencipta teknologi, bukan hanya pengguna.

“Rantai pasok harus memiliki lebih banyak pusat produksi, terutama di negara-negara berkembang,” ucapnya.

Di sela-sela pertemuan, Menlu Arrmanatha juga menggelar sejumlah pertemuan bilateral dengan para menteri luar negeri Turki, Rusia, Argentina, Meksiko, Inggris, Kanada, Jerman, India, Arab Saudi, dan Polandia. Dia turut mengadakan pertemuan dengan High Representative sekaligus Wakil Presiden Komisi Eropa, serta pertemuan pull-aside dengan Menlu Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan Prancis.

Pertemuan Menteri Luar Negeri G20 tersebut merupakan bagian dari rangkaian Presidensi G20 Amerika Serikat 2026. Kegiatan ini dihadiri perwakilan dari 18 negara anggota G20, Uni Eropa, Uni Afrika, serta Polandia sebagai negara undangan tuan rumah. Sementara itu, Afrika Selatan tidak hadir.

Pada akhir pertemuan, Amerika Serikat selaku Presiden G20 mengeluarkan Chair's Statement yang merangkum pembahasan dan berbagai pandangan yang berkembang selama pertemuan.

Rangkaian Presidensi G20 Amerika Serikat akan mencapai puncaknya melalui Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Miami pada 14–15 Desember 2026. Setelah itu, kepemimpinan G20 akan beralih ke Inggris untuk tahun 2027.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut