Menyemai Asa dari Pasar Rakyat untuk Indonesia Bebas Pandemi 

Felldy Utama · Kamis, 28 Oktober 2021 - 13:39:00 WIB
Menyemai Asa dari Pasar Rakyat untuk Indonesia Bebas Pandemi 
Suasana Pasar Minggu selalu ramai setiap hari. (Foto iNews.id).

JAKARTA, iNews.id - Hari itu, deretan pedagang saling berhadapan berlomba menjajakan dagangannya masing-masing. Para pembeli pun sibuk lalu-lalang mencari dagangan yang ingin dibeli. 

Tidak ada genangan air di sepanjang jalan, tapi tetap ada bau amis ikan dan ayam di pojokan sana, sementara di bagian tengah ada bau khas ikan asin yang begitu menyengat bercampur dengan aroma rempah yang semerbak. Tumpukan sayur mayur, buah-buahan segar dengan warna-warni yang mentereng, hingga beragam jenis pakaian juga berjejer rapi dan siap untuk diambil pembeli. 

Itulah sekilas wajah Pasar Minggu, Jakarta. Pasar Minggu harus terus bergerak tanpa jeda dan lelah, menghidupi banyak kepala.

Sayangnya, wajah pasar yang terletak di Selatan Ibu Kota ini berubah drastis ketika virus Covid-19 mulai menyerang Indonesia. Sejak saat itu, suasana pasar tidak lagi sama. 

Suasana Pedagang dan Pembeli di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. (Foto iNews.id).
Suasana Pedagang dan Pembeli di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. (Foto iNews.id).

Pasar Minggu menjadi salah satu yang dianggap sebagai suatu tempat yang menakutkan karena khawatir menjadi salah satu tempat penyebaran virus ganas itu. Kondisi tersebut tentu berdampak langsung kepada penjualan para pedagang yang ada di pasar ini. 

Sehari dua hari, mungkin jadi hal yang mudah. Tapi, lain ceritanya ketika pemerintah memutuskan untuk membatasi aktivitas perdagangan nyaris sebulan penuh demi menekan penyebaran virus corona di tempat-tempat umum. Sebagai penggerak roda perekonomian, banyak pedagang yang mengeluh babak belur dan tak berdaya menghadapi pandemi ini. Tidak sedikit yang memilih untuk berhenti berdagang dan banting setir mencari sumber penghidupan lain. Ada pula yang lebih memilih untuk pulang kampung mencari peruntungan yang lebih baik. Hanya segelintir yang tetap berdagang, meski pendapatan yang didapatkan pun belum tentu balik modal. 

Editor : Faieq Hidayat

Bagikan Artikel: