Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Fakta Mengejutkan! Pasien DBD Butuh Waktu Pulih hingga 2 Pekan, Biaya Terus Bertambah
Advertisement . Scroll to see content

Meski Punya BPJS Pasien DBD Masih Rogoh Kocek hingga Rp1,3 Juta, Ini Penyebabnya

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:19:00 WIB
Meski Punya BPJS Pasien DBD Masih Rogoh Kocek hingga Rp1,3 Juta, Ini Penyebabnya
Peserta JKN masih harus mengeluarkan biaya mandiri (out of pocket) rata-rata Rp1,1 juta hingga Rp1,3 juta untuk satu episode sakit akibat dengue. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman kesehatan di Indonesia. Selain berisiko menyebabkan komplikasi serius, penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti ini juga menimbulkan beban ekonomi yang besar, bahkan bagi pasien yang sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan.

Berdasarkan studi terbaru dari Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya menghilangkan pengeluaran pribadi pasien selama menjalani perawatan dengue.

Peneliti UGM, Dr Diah Ayu Puspandari, M.Kes., MBA., Apt., mengungkapkan peserta JKN masih harus mengeluarkan biaya mandiri (out of pocket) rata-rata Rp1,1 juta hingga Rp1,3 juta untuk satu episode sakit akibat dengue.

Biaya tersebut umumnya bukan untuk tindakan medis, melainkan kebutuhan nonmedis seperti transportasi menuju fasilitas kesehatan serta akomodasi anggota keluarga yang mendampingi pasien selama dirawat.

Sebaliknya, pasien yang tidak memiliki jaminan kesehatan harus menanggung biaya jauh lebih besar, yakni sekitar Rp4,3 juta hingga Rp5,6 juta karena seluruh biaya pengobatan dan perawatan dibayar secara mandiri.

Studi yang sama juga memperkirakan beban ekonomi akibat dengue di Indonesia sepanjang 2024 mencapai USD550,9 juta atau hampir Rp9 triliun, dengan lebih dari 2 juta kasus rawat inap. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak dengue tidak hanya membebani sistem kesehatan, tetapi juga kondisi ekonomi keluarga pasien.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), mengatakan beban dengue tidak berhenti pada biaya pengobatan. Menurut dia, ketika seorang anak dirawat karena dengue, orang tua biasanya harus mendampingi sehingga kehilangan waktu bekerja dan produktivitas.

Hal serupa juga terjadi ketika orang tua yang terserang dengue. Anggota keluarga lain harus mengambil peran sebagai pendamping selama proses perawatan. Selain itu, masa pemulihan pasien juga membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua minggu setelah keluar dari rumah sakit hingga kondisi benar-benar pulih dan dapat kembali beraktivitas normal.

Karena itu, Prof. Sri menilai upaya pencegahan dengue perlu dilakukan secara lebih komprehensif. Selain pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus, deteksi dini di fasilitas kesehatan juga perlu diperkuat.

Dia juga menekankan pentingnya vaksinasi dengue sebagai salah satu langkah pencegahan. Menurutnya, vaksinasi berpotensi menurunkan jumlah kasus bergejala, kebutuhan rawat inap, hingga angka kematian dalam jangka panjang, sekaligus memberikan penghematan biaya kesehatan yang signifikan.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut