Modus Korupsi Makin Canggih, Jaksa Agung: Harus Ada Efek Pemiskinan bagi Pelaku

Irfan Ma'ruf ยท Selasa, 24 November 2020 - 19:56:00 WIB
Modus Korupsi Makin Canggih, Jaksa Agung: Harus Ada Efek Pemiskinan bagi Pelaku
Jaksa Agung ST Burhanuddin. (Foto: Antara/Nova Wahyudi).

JAKARTA, iNews.id - Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin meminta aparat penegak hukum mulai menyesuaikan orientasi penegakan hukum yang selama ini dilakukan. Jika sebelumnya menggunakan pendekatan mengejar dan menghukum pelaku melalui pidana penjara (follow the suspect), sekarang orientasi harus dibarengi dengan pendekatan follow the money dan follow the asset.

"Kebijakan penegakan hukum wajib memastikan hukuman harus dapat memberikan deterrent effect baik di sektor pidananya dan juga sektor perekonomian pelaku," kata Jaksa Agung saat menyampaikan sambutan dalam acara penyerahan barang hasil rampasan negara dari Kementerian Keuangan kepada Kejaksaan, Selasa (24/11/2020).

Burhanuddin menekankan pentingnya menggabungkan pendekatan pidana dengan pendekatan ekonomi karena pelaku white collar crime memiliki rasio tinggi. Ini terlihat dari modus yang kian canggih dan terstruktur karena dicampur dengan teori-teori ilmu pengetahuan seperti akuntansi dan statistik.

“Jika diukur dari canggihnya modus operandi, kelas orang yang terlibat dan besaran dana dijarah, jelas korupsi merupakan kejahatan kelas tinggi yang sebenarnya dilatarbelakangi oleh prinsip yang keliru yaitu keserakahan itu indah (greedy is beautiful)," ucap Burhanuddin.

Para pelaku kejahatan korupsi mempertimbangkan antara biaya (cost) dan keuntungan (benefit) yang dihasilkan. Kalkulasi untung rugi tersebut bertujuan untuk menentukan dan memutuskan pilihan apakah “melakukan” atau “tidak melakukan” suatu kejahatan.

Pilihan yang diambil para pelaku yakni “melakukan” karena masih sangat menguntungkan. Tidak sedikit pelaku korupsi yang siap masuk penjara karena dia dan keluarganya masih akan tetap hidup makmur dari hasil korupsi yang telah dilakukan.

Jika aparat penegak hukum menerapkan dua pendekatan sekaligus yakni pidana dan ekonomi, Jaksa Agung memastikan ada dua hal positif yang dapat diperoleh.

Pertama, perampasan aset ingin memberikan pesan yang kuat kepada para pelaku korupsi kejahatan yang mereka lakukan tidak memberikan nilai tambah finansial (crime does not pay), melainkan justru memiskinkan dan menimbulkan kesengsaraan bagi si pelaku.

Editor : Zen Teguh