Muhammadiyah dan DMI Sepakat Larang Politisasi Masjid

Antara, Ade Firmansyah, Irfan Ma'ruf ยท Kamis, 05 Juli 2018 - 16:49 WIB
Muhammadiyah dan DMI Sepakat Larang Politisasi Masjid

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto: ANTARA)

JAKARTA, iNews.idMuhammadiyah dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) sepakat melarang menjadikan rumah ibadah sebagai tempat kegiatan politik praktis. Kesepakatan itu diutarakan oleh pimpinan kedua organisasi dalam pertemuan yang digelar di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, hari ini.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, organisasi yang diketuainya satu tujuan dengan DMI dalam mewujudkan masjid sebagai pusat kegiatan umat. Selain menjadi tempat ibadah, masjid juga menjadi pusat institusi ekonomi, pendidikan, dan pemberdayaan kaum muslim.

Dia berpendapat, dengan merevitalisasi masjid sebagai pusat kegiatan untuk menyejahterakan umat, masjid bisa turut menekan kesenjangan sosial. Jika masjid mampu menekan kesenjangan tersebut, kata dia, dengan sendirinya problem masyarakat umum dan bangsa juga akan ikut teratasi, termasuk menangkal embrio terorisme dan radikalisme.

Kendati demikian, dia mengingatkan masyarakat untuk tidak menjadikan masjid sebagai tempat kegiatan politik praktis. Masjid, menurut Haedar, tidak boleh dipolitisasi, terlebih untuk kepentingan kelompok tertentu. Sebaliknya, Muhammadiyah justru menginginkan agar masjid dijadikan tempat pendidikan dan pendewasaan politik agar masyarakat sadar untuk berpolitik dan memikiki keadaban berpolitik.

“Muhammadiyah itu paling depan mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan masjid sebagai pusat politik praktis. Masjid harus dijadikan pusat pencerdasan, pendewasaan, dan pendidikan politik agar warga yang tidak tahu itu bisa melek politik, sadar politik, dan adab poiltik yang mencerdaskan,” ujar Haedar di Jakarta, Kamis (5/7/2018).

Wakil Ketua Umum DMI Komjen Pol Syafruddin mengatakan, pihaknya terus berupaya mengoptimalkan masjid selain untuk beribadah agar bisa memberdayakan masyarakat. Dalam upaya tersebut, dia menegaskan perlunya kontribusi dari berbagai pihak, termasuk lewat kemitraan dengan Muhammadiyah.

“Kami mengurusi masjid di Indonesia yang jumlahnya 800 ribu tentu perlu kontribusi Muhammadiyah. Muhammdiyah adalah salah satu yang menciptakan SDM (sumber daya manusia) untuk mengisi dan memakmurkan masjid itu sendiri,” tutur Syafruddin.

Editor : Ahmad Islamy Jamil