Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Wartawan Parlemen Doakan 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal Hilang: Kami Optimistis Ditemukan Selamat
Advertisement . Scroll to see content

Muncul Fenomena Kawah Telur Ceplok usai Anak Krakatau Erupsi, Ini Penjelasan Pakar

Senin, 21 September 2026 - 11:24:00 WIB
Muncul Fenomena Kawah Telur Ceplok usai Anak Krakatau Erupsi, Ini Penjelasan Pakar
Fenomena kawah 'telur ceplok' di area Gunung Anak Krakatau (Dok. Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Aktivitas Gunung Anak Krakatau mereda setelah erupsi besar terjadi pada 3 September 2026. Saat ini, hanya tersisa aktivitas kegempaan dan asap putih sisa erupsi.

Dari sisa aktivitas tersebut, muncul fenomena yang disebut sebagai 'telur ceplok' di area Gunung Anak Krakatau. Fenomena tersebut berupa pola warna kuning dan putih di area kawah.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan fenomena tersebut berkaitan dengan interaksi air, gas vulkanik, serta batuan dan mineral di lingkungan kawah.

"Fenomena kawah Anak Krakatau yang tampak seperti telur ceplok terjadi karena interaksi antara air yang menggenang di dasar kawah dengan gas vulkanik, terutama senyawa sulfur atau belerang, serta batuan dan mineral hasil alterasi hidrotermal. Warna kuning pada bagian tengah berkaitan dengan sulfur dan material mineral yang terbentuk atau terlarut akibat aktivitas vulkanik, sedangkan bagian putih di sekelilingnya merupakan batuan dan mineral yang mengalami alterasi oleh fluida serta gas panas," kata Daryono dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).

Dia menjelaskan, genangan air berada di bagian terendah kawah. Sementara itu, proses kimia dan pengendapan mineral di sekitarnya menghasilkan kontras warna yang jika dilihat dari udara menyerupai kuning telur dan putih telur.

"Jadi, fenomena ini merupakan proses geokimia alami di lingkungan kawah vulkanik aktif, bukan sesuatu yang aneh, misterius, atau pertanda bahaya," ujarnya.

Daryono menjelaskan, kemunculan fenomena tersebut dapat dipahami sebagai rangkaian perubahan aktivitas di kawah setelah erupsi besar Anak Krakatau pada 3 September.

"Jadi urutannya kira-kira erupsi besar Anak Krakatau 3 September, aktivitas permukaan kemudian mereda, rekaman udara menampilkan genangan kawah dengan pola kuning-putih, video mulai viral 18 September, 19 September pemberitaan makin meluas dan masyarakat ingin tahu apa sebabnya?" ujar Daryono.

Dia menambahkan, istilah telur ceplok bukan merupakan nama resmi dalam vulkanologi, melainkan sebutan publik untuk menggambarkan penampakan visual tersebut.

"Catatan penting: istilah telur ceplok tampaknya adalah sebutan publik untuk penampakan visual tersebut, bukan nama fenomena vulkanologi resmi," katanya.

Editor: Reza Fajri

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut