Pemikir Kebhinekaan Lulusan Harvard Sukidi: Negara Rusak karena Hukum Bukan Dipatuhi tapi Dimanipulasi
JAKARTA, iNews.id - Pemikir kebhinekaan lulusan Universitas Harvard, Sukidi menyoroti kondisi negara yang rusak karena hukum bukan dipatuhi, namun dimanipulasi. Dia menyatakan kunci kemakmuran bangsa adalah kepatuhan hukum.
"Saya tidak melihat bahwa para pemimpin kita itu punya kesadaran bahwa kepatuhan pada hukum itu adalah kunci bagi kemakmuran satu bangsa. Para pemimpin hanya berpikir secara tradisional bahwa kemakmuran satu bangsa itu melalui sumber kekayaan alam," ujar Sukidi dalam podcast Bikin Terang iNews, dilihat Minggu (4/1/2026).
Mengutip rilis Bank Dunia, Sukidi mengatakan kekayaan alam hanya berkontribusi 23 persen dalam kemakmuran bangsa. Dia menuturkan kepatuhan hukum justru memegang porsi terbesar bagi kemakmuran bangsa yakni mencapai 44 persen.
"Bank Dunia itu hanya mencatat hanya 23 persen kontribusi dari sumber kekayaan alam bagi kemakmuran satu bangsa. sisanya justru yang terbesar itu adalah kepatuan pada hukum yang menempati 44 persen bagi kemakmuran satu bangsa," tutur dia.
Berdasarkan data itu, Sukidi mengatakan kemakmuran bangsa ditentukan pada kepatuhan hukum. Namun, dia tak melihat indikator itu di Indonesia.
Menurut dia, hukum di Indonesia bukan untuk dipatuhi, tapi dieksplotasi hingga dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan.