Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku, Yusril: Era Baru Penegakan Hukum
Advertisement . Scroll to see content

Pemikir Kebhinekaan Lulusan Harvard Sukidi: Negara Rusak karena Hukum Bukan Dipatuhi tapi Dimanipulasi

Minggu, 04 Januari 2026 - 12:08:00 WIB
Pemikir Kebhinekaan Lulusan Harvard Sukidi: Negara Rusak karena Hukum Bukan Dipatuhi tapi Dimanipulasi
Pemikir kebhinekaan lulusan Universitas Harvard, Sukidi. (Foto: iNews)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Pemikir kebhinekaan lulusan Universitas Harvard, Sukidi menyoroti kondisi negara yang rusak karena hukum bukan dipatuhi, namun dimanipulasi. Dia menyatakan kunci kemakmuran bangsa adalah kepatuhan hukum.

"Saya tidak melihat bahwa para pemimpin kita itu punya kesadaran bahwa kepatuhan pada hukum itu adalah kunci bagi kemakmuran satu bangsa. Para pemimpin hanya berpikir secara tradisional bahwa kemakmuran satu bangsa itu melalui sumber kekayaan alam," ujar Sukidi dalam podcast Bikin Terang iNews, dilihat Minggu (4/1/2026).

Mengutip rilis Bank Dunia, Sukidi mengatakan kekayaan alam hanya berkontribusi 23 persen dalam kemakmuran bangsa. Dia menuturkan kepatuhan hukum justru memegang porsi terbesar bagi kemakmuran bangsa yakni mencapai 44 persen.

"Bank Dunia itu hanya mencatat hanya 23 persen kontribusi dari sumber kekayaan alam bagi kemakmuran satu bangsa. sisanya justru yang terbesar itu adalah kepatuan pada hukum yang menempati 44 persen bagi kemakmuran satu bangsa," tutur dia.

Berdasarkan data itu, Sukidi mengatakan kemakmuran bangsa ditentukan pada kepatuhan hukum. Namun, dia tak melihat indikator itu di Indonesia.

Menurut dia, hukum di Indonesia bukan untuk dipatuhi, tapi dieksplotasi hingga dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan.

"Nah hukum kita bukan untuk dipatuhi, tapi justru dieksploitasi, dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan. Sehingga di sana-sini ketika ada orang bermasalah secara hukum, mereka mengalami ketakutan yang luar biasa," ujarnya.

Sukidi lalu mengutip analisis profesor Harvard, Lawrence Lessig. Sang profesor, kata dia, mengatakan kerusakan baik yang terjadi di Amerika maupun Indonesia diakibatkan oleh evil soul atau orang-orang berjiwa jahat bergabung ke pemerintahan untuk merampok kekayaan negara.

"Jadi orang-orang yang memang bergabung ke pemerintahan memang tujuannya adalah untuk maling. Sehingga Lawrence Lessig, profesor di Harvard ini menegaskan bahwa many of us think of government as little more than criminal, jadi banyak di antara kita berpikir bahwa pemerintah itu tidak lebih sekadar penjahat karena dominasi dari evil soul tadi," kata dia.

Kemudian, kata dia, Lessig juga menyoroti decent people atau orang baik yang menjadi jahat karena bergabung ke sistem pemerintahan yang buruk.

"Sehingga orang baik pun akhirnya menjadi buruk karena sistemnya sudah buruk. Jadi sistem kita memang sudah buruk sehingga orang baik yang mau gabung pun sering kali akhirnya ikut jatuh pada kehinaan itu sendiri," kata dia.

Editor: Rizky Agustian

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut