Pengangguran: Di Rapat Kabinet Angka Turun, di Lapangan Banyak Pekerja Dirumahkan
Didi Irawadi Syamsuddin
Pengacara, Politisi
PRESIDEN boleh tersenyum melihat angka pengangguran yang katanya terendah sejak 1998. Tapi di luar ruang rapat, kenyataan berkata lain. Pabrik‐pabrik merumahkan karyawan, ribuan buruh kehilangan jam kerja, dan para lulusan baru menatap layar laptop dengan lamaran yang tak kunjung dibalas. Statistik boleh turun, tapi rasa cemas di dapur rakyat justru naik.
Masalahnya bukan pada angka, tapi pada tafsirnya. Ketika pembantu presiden lebih sibuk menyenangkan telinga ketimbang menegakkan fakta, negara berubah jadi ruang gema, di mana kabar baik menggema, dan kabar buruk disenyapkan. Laporan disusun bukan untuk memperbaiki, melainkan untuk memuji. Maka jadilah rapat kabinet seperti panggung opera data, musiknya indah, tapi liriknya palsu.
Budaya “asal bapak senang” adalah virus birokrasi paling menular. Ia membuat pejabat sibuk mempercantik grafik, bukan memperbaiki kebijakan. Pengangguran dipoles jadi prestasi, PHK disebut “efisiensi,” dan kerja serabutan disulap menjadi “kewirausahaan.” Semua terdengar positif, sampai rakyat sadar, saldo rekening tetap negatif.
Gas Melon: Ketika Subsidi Tak Sampai, Harga Mencekik Emak-Emak!
Sementara itu, anak muda yang baru lulus kuliah berbaris di job fair dengan wajah letih. Sertifikat kursus digital, magang, hingga bootcamp tak banyak menolong. Yang tersedia hanyalah kerja kontrak tiga bulan atau jualan daring tanpa modal cukup. Mereka bukan tak mau bekerja. Mereka hanya tak tahu lagi harus percaya pada angka siapa.
Di sisi lain, buruh pabrik kehilangan nafkah karena penyesuaian produksi. Di media, pemerintah bicara optimisme; di lapangan, para pekerja berbagi mi instan. Ironi ini telanjang di depan mata, tapi tertutup oleh infografis yang berwarna cerah. Di negeri ini, grafik memang sering lebih bahagia dari rakyatnya.
Ketika Gaji Guru Kalah dari Juru Parkir
Kalau presiden ingin tahu kebenaran, jangan tanya pada pembisik yang pandai membuat grafik naik. Tanyalah pada pekerja yang kehilangan pesangon, atau sarjana yang masih menunggu panggilan kerja. Di situ letak data yang sesungguhnya. Bukan di tabel Excel, tapi di perut yang lapar dan kepala yang pusing.
Jangan Pernah Menghina Rakyat dengan Kata Tolol
Negara ini tidak butuh angka yang indah, tapi kejujuran yang tegas. Karena statistik yang dimanipulasi hanya menenangkan hati penguasa, bukan menghidupi rakyat.
Pengangguran tidak akan hilang dengan pidato dan kemiskinan tidak bisa disembunyikan oleh persentase. Sebab yang benar‐benar keliru bukan datanya, melainkan cara kekuasaan memperlakukan kenyataan.
Selesaikan Polemik Ijazah Jokowi dengan Transparansi, Bukan Kriminalisasi
Editor: Maria Christina