Perkasa, Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat ke Rp17.694 per Dolar AS
JAKARTA, iNews.id - Nilai tukarrupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan, Jumat (21/8/2026). Rupiah naik 0,3 persen ke Rp17.694 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, kebijakan otoritas AS dalam mengendalikan kenaikan yield obligasi menjadi sentimen positif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Secara sentimen eksternal, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan melipatgandakan buyback surat berharga negara (Treasury) jangka panjang menjadi setidaknya 4 miliar dolar AS per operasi selama kuartal mendatang untuk menurunkan imbal hasil," ujar Ibrahim dalam analisisnya, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, pemerintah AS masih membuka kemungkinan meningkatkan pembelian tersebut karena menilai tingkat yield saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi.
Pelonggaran biaya pinjaman jangka panjang di AS dinilai dapat menahan penguatan dolar AS secara global, sehingga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak positif.
Dari dalam negeri, penguatan rupiah juga ditopang oleh kinerja intermediasi perbankan yang tetap solid.
Kredit perbankan nasional tumbuh 13,58 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Juli 2026. Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 12,67 persen.
Kinerja tersebut didukung bauran kebijakan makroprudensial akomodatif Bank Indonesia (BI) serta ketahanan modal perbankan. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat 23,70 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL) berada di level 2,09 persen secara bruto.
Meski demikian, pasar masih mencermati kondisi eksternal Indonesia setelah Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) sebesar 12,5 miliar dolar AS pada kuartal II 2026 atau setara 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Ibrahim menilai, pelebaran CAD terutama dipengaruhi peningkatan defisit neraca perdagangan migas akibat tingginya harga minyak dunia, penurunan surplus nonmigas seiring meningkatnya impor untuk menopang aktivitas ekonomi domestik, serta kenaikan defisit pendapatan primer.
Selain kondisi neraca transaksi berjalan, pasar juga mewaspadai potensi tekanan inflasi pangan akibat anomali iklim.
Ibrahim mengatakan, fenomena El Niño berpotensi mengganggu produktivitas pertanian nasional apabila tidak diantisipasi dengan baik. Penurunan produksi dapat memengaruhi pasokan sejumlah komoditas pangan dan pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.
"Kekhawatiran terhadap inflasi pangan akibat El Niño sangat beralasan karena fenomena kekeringan panjang dapat menurunkan produksi pertanian, sehingga pasokan beras dan komoditas lain berkurang. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga barang yang pada akhirnya berisiko menggerus daya beli serta tingkat kepercayaan masyarakat," kata dia.
Dengan mempertimbangkan sentimen penurunan yield Treasury AS, solidnya pertumbuhan kredit perbankan, serta risiko dari dinamika pangan dan transaksi berjalan, rupiah dinilai masih memiliki ruang untuk menguat.
Untuk perdagangan Senin pekan depan, mata uang rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.640 hingga Rp17.700 per dolar AS. Sedangkan untuk perdagangan sepekan, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.600 sampai Rp17.900 per dolar AS.
Editor: Aditya Pratama