Persoalan Nasionalisme Ganda, Papua Dinilai Butuh Paradigma Baru

iNews ยท Kamis, 10 September 2020 - 21:52 WIB
Persoalan Nasionalisme Ganda, Papua Dinilai Butuh Paradigma Baru

Penulis buku Papua Road Map, Adriana Elisabeth. (Foto: Istimewa).

JAKARTA, iNews.id - Nasionalisme dinilai sebagai proses kehidupan, dinamis dan ditentukan oleh konteks dan kepentingan yang saling berkorelasi. Konsep nasionalisme tidak sederhana karena terdapat beberapa elemen pokok yang perlu dipahami.

Penulis buku Papua Road Map Adriana Elisabeth mengatakan, elemen pokok tersebut, yaitu sistem kepercayaan, bangsa atau rakyat, kemerdekaan dan berdaulat atau kedaulatan. Dalam perjalanannya, nasionalisme tidak selalu mulus, namun kerap menghadapi ketidakstabilan, misalnya karena ancaman intoleransi, terutama di dalam konteks keberagaman suku, etnis dan agama dan konflik sosial.

"Nasionalisme Eropa banyak memengaruhi kesadaran kebangsaan di banyak negara, terutama sejak Masa Pencerahan pada abad 17-18," ujar Adriana dalam webinar bertajuk, Adakah Nasionalisme Ganda Orang Papua? yang diselenggarakan oleh Keluarga Alumni Universitas Cendrawasih (KAMI-UNCEN), Rabu (9/9/2020).

Dia menuturkan, dalam konteks Papua, nasionalisme Indonesia seolah-olah berhadapan dengan etnonasionalisme Papua karena Indonesia masih menghadapi tantangan akibat gerakan separatis Papua. Sementara bagi Papua, kata dia akar nasionalisme tumbuh karena pengalaman sejarah konflik, kekerasan, marjinalisasi ekonomi dan diskriminasi rasial.

Selain itu, menguatnya nasionalisme Papua juga dipengaruhi dinamika global. Isu Papua dinilai semakin dikenal publik bukan hanya di dalam negeri, namun juga di luar negeri.

"Hal ini menjadikan konflik Papua salah satu jenis intra-strate conflict yang ada di dunia," ucapnya.

Menurutnya, untuk mengatasi persoalan Papua, terutama mengenai nasioanalisme ataupun akar masalah yang telah ditulis di dalam buku Papua Road Map, 2009 (marjinalisasi dan diskriminasi, masalah pembangunan, kekerasan dan pelanggaran HAM dan pro-kontra sejarah Papua), tidak ada acara yang isntan dapat dilakukan, tetapi memerlukan proses perubahan sosial yang panjang.

"Salah satu pendekatan damai yang dapat dilakukan adalah membangun negative peace, di mana tidak ada lagi konflik kekerasan, bahkan perbaikan komunikasi harus dilakukan dengan cara menghilangkan stigma terhadap orang Papua maupun terhadap Pemerintah Indonesia," ucapnya.

Selain itu, Papua memerlukan paradigma baru berbasis etnografi, proses pembangunan dengan memberikan ruang terjadinya pertukaran nilai secara baik dan tidak memaksakan sebuah perubahan.

"Yang utama adalah membangun nasionalisme Papua berbasis kesadaran dan kecintaan Papua kepada Indonesia dengan memahami pergulatan hidup orang Papua. Dengan demikian, nasionalisme ganda Papua mungkin tidak akan menjadi isu lagi," katanya.

Editor : Kurnia Illahi