Polisi Tangkap 6 Tersangka Percobaan Penggagalan Pelantikan Presiden, 3 di Antaranya Perempuan

Irfan Ma'ruf ยท Senin, 21 Oktober 2019 - 19:03 WIB
 Polisi Tangkap 6 Tersangka Percobaan Penggagalan Pelantikan Presiden, 3 di Antaranya Perempuan

Polda Metro Jaya merilis enam tersangka percobaan penggagalan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih 2019-2024 Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, Senin (21/10/2019). (Foto: iNews.id/Irfan Ma'ruf)

JAKARTA, iNews.id - Polisi mengamankan enam orang yang diduga berupaya menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo dan Ma'ruf Amin pada Minggu, 20 Oktober 2019. Para pelaku berada dalam satu grup WhatsApp (WA) untuk menyusun rencana menggagalkan pelantikan itu menggunakan peledak.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan, enam orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka tersebut yakni SH, E, FAB, RH, HRS dan PSM. Sebanyak tiga orang tersangka berjenis kelamin perempuan.

"Di grup itu membahas kegiatan yang akan dilakukan upaya untuk menggagalkan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden. Dari keterangan, WA grup ini berkembang untuk perencanaan. Makanya kita sudah menangkap 6 orang, kita lakukan pemeriksaan," katanya dalam konferensi pers di kantornya pada Senin, (21/10/2019).

Argo menjelaskan, tersangka SH yang berperan membuat grup tersebut. Dalam grup tersebut berisi 123 orang dengan lima orang member.

"Yang buat ide dan buat grup adalah tersangka SH, buat grup WA dan memasukkan beberapa member untuk tujuannya menggagalkan pelantikan," kata Argo.

SH, menurut Argo, masih memunyai hubungan dengan dosen nonaktif IPB, Abdul Basith. Keduanya, berkomunikasi terkait rencana penggagalan pelantikan presiden dengan menggunakan ketapel dan bola karet.

Dalam rencana, bola karet yang dibuat digunakan untuk menyerang aparat keamanan yang berjaga di Gedung DPR RI. "Rencananya menggunakan ketapel dan bola karet. Dari hasil pemeriksaan dapat diketahui akan dipakai di Gedung DPR untuk menyerang aparat, akan diberikan ke demonstran," tuturnya.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 169 ayat 1 KUHP dan atau Pasal 187 ayat 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 Undang-Undang Darurat dengan ancaman hukuman lima sampai dua puluh tahun penjara.


Editor : Djibril Muhammad