Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Prabowo Kaget Lihat Analisis Perpecahan Kabinet di Medsos: Jangan Percaya
Advertisement . Scroll to see content

Prabowo Tegaskan Neoliberal Tak Cocok di RI: Pertumbuhan Harus Disertai Pemerataan

Senin, 12 Januari 2026 - 15:38:00 WIB
Prabowo Tegaskan Neoliberal Tak Cocok di RI: Pertumbuhan Harus Disertai Pemerataan
Presiden Prabowo Subianto saat peresmian 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi di Kabupaten Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026). (Foto: BPMI Setpres)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik tajam terhadap konsep pertumbuhan ekonomi ala neoliberalisme yang meyakini kekayaan di lapisan atas piramida ekonomi akan menetes secara alami ke masyarakat bawah. Menurut Prabowo, teori tersebut tidak sesuai dengan kondisi Indonesia.

Dia menilai Indonesia membutuhkan pendekatan pembangunan yang berbeda mengingat sejarah panjang penjajahan serta kondisi sosial yang masih memerlukan pemerataan secara cepat.

“Cara berpikir dan cara berpikir tentang bernegara, cara berpikir tentang pembangunan yang konvensional, yang normatif adalah membangun pertumbuhan, ya, dan ada pemikiran selama ini, ya, pemikiran neoliberal, biar yang kaya enggak apa-apa 0,1 persen. Lama-lama, menurut teori ini, karena pertumbuhan kekayaan menumpuk, enggak apa-apa menumpuk di atas, lama-lama akan menetes ke bawah,” ujar Prabowo saat memberikan sambutan dalam peresmian 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), Senin (12/1/2026).

Neoliberalisme merupakan paham ekonomi-politik yang menekankan mekanisme pasar bebas, deregulasi, privatisasi, serta pengurangan peran negara dalam aktivitas ekonomi. Ideologi ini berkembang sejak akhir abad ke-20 sebagai kelanjutan dari liberalisme klasik dan hingga kini masih menjadi perdebatan karena dampaknya terhadap perekonomian global dan kehidupan sosial masyarakat.

Prabowo menegaskan, teori tersebut tidak realistis jika diterapkan pada negara dengan jumlah penduduk besar seperti Indonesia. 

“Nah ini teori. Tapi kenyataannya netesnya kapan sampai ke bawah? Jangan-jangan netesnya 300 tahun, kita sudah mati semua. Ini menurut saya tidak tepat,” tutur dia.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut