Profil Subaryono Dosen Teknik Geodesi UGM, Ayah Arya Daru Pangayunan
YOGYAKARTA, iNews.id - Profil Subaryono dosen Teknik Geodesi UGM, ayah Arya Daru Pangayunan adalah topik yang belakangan menarik perhatian publik, khususnya setelah beberapa berita terkait keluarga dan perjalanan hidup Arya Daru Pangayunan, seorang diplomat muda Kementerian Luar Negeri, mencuat.
Banyak pihak ingin tahu lebih dalam mengenai sosok Subaryono, yang dikenal sebagai dosen senior berpengaruh di Departemen Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada (UGM), serta perannya sebagai ayah bagi Arya Daru Pangayunan.
Subaryono dikenal sebagai akademisi yang berkiprah lama di lingkungan Fakultas Teknik UGM, khususnya di bidang Teknik Geodesi.
Ia pernah menyelesaikan pendidikan hingga jenjang doktor (Ph.D) di luar negeri, yang kemudian menjadi pondasi keilmuannya dalam pengembangan geodesi dan geomatika di Indonesia.
Sebagai dosen, Subaryono tercatat membimbing banyak mahasiswa, baik di tingkat sarjana, magister, maupun doktoral. Pengabdiannya di kampus tidak hanya terbatas pada pengajaran tetapi juga aktif dalam penelitian dan pengabdian masyarakat, khususnya mengenai teknologi pemetaan, penginderaan jauh, dan aplikasi geodesi dalam pembangunan nasional.
Departemen Teknik Geodesi UGM dikenal sebagai salah satu institusi dengan reputasi terbaik di bidang kegeodesian Indonesia.
Nama Subaryono masuk dalam daftar dosen senior yang pernah membentuk arah kurikulum, membangun jaringan kerja sama dengan lembaga nasional dan internasional, serta memperkenalkan teknologi mutakhir untuk mahasiswa dan peneliti di bidang geodesi dan geomatika.
Selama masa baktinya, Subaryono juga terlibat dalam sejumlah organisasi profesi dan jaringan alumni Teknik Geodesi UGM. Pengaruhnya terasa dalam pembentukan berbagai laboratorium keahlian di departemen serta peran konsultatifnya terhadap proyek pemerintah yang melibatkan keilmuan geodesi.
Subaryono dikenal luas akan keahliannya di bidang deformasi dan geodesi fisis. Ia banyak melakukan penelitian terkait pemetaan digital, pemantauan perubahan permukaan bumi, serta pengaplikasian sistem informasi geografis. Berbagai karyanya dipresentasikan di forum nasional maupun internasional. Rekam jejak publikasi ini memperkuat posisinya sebagai salah satu pakar geodesi yang disegani di lingkungan kampus dan komunitas keilmuan di Tanah Air.
Banyak yang mengenal nama Subaryono sebagai ayah Arya Daru Pangayunan. Arya sendiri adalah sosok diplomat muda Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang dikenal berdedikasi pada tugas pelindungan WNI di luar negeri. Arya merupakan lulusan Universitas Gadjah Mada jurusan Hubungan Internasional dan juga berasal dari keluarga dengan latar belakang pendidikan yang kuat. Ibunda Arya pun berasal dari lingkungan akademisi.
Sosok Subaryono sebagai ayah memegang peran penting dalam kehidupan dan pendidikan Arya Daru Pangayunan.
Semasa kecil, Arya tumbuh di lingkungan akademisi, tepatnya di kawasan perumahan Fakultas Teknik UGM di Sleman. Kedisiplinan, semangat belajar, dan dorongan untuk menimba pengalaman setinggi-tingginya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ditanamkan sang ayah.
Selama berkarier sebagai dosen dan peneliti, Subaryono dikenal sangat peduli dengan perkembangan mahasiswa dan riset di bidang teknik geodesi. Banyak alumnus menyebut beliau sebagai sosok yang mudah diajak berdiskusi dan selalu terbuka terhadap inovasi. Ia juga seorang pembelajar sejati yang tidak pernah ragu memperbarui metode pengajaran sesuai perkembangan zaman.
Peran Subaryono tidak hanya berdampak di lingkungan kampus, tetapi juga memberi warna tersendiri dalam keluarga. Ia dikenal membangun komunikasi yang baik dengan anak-anaknya, menanamkan nilai keilmuan, integritas, serta kejujuran. Tak mengherankan jika Arya Daru Pangayunan tumbuh menjadi sosok diplomat muda yang tangguh dan berdedikasi dalam tugasnya.
Beberapa waktu terakhir, kepergian Arya Daru Pangayunan menjadi perhatian luas. Banyak pihak berempati dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga besar UGM, khususnya kepada Subaryono. Dosen-dosen dan mahasiswa Teknik Geodesi UGM mengenang sosok Subaryono sebagai guru dan mentor yang tak hanya mengajarkan materi perkuliahan, tetapi juga membimbing dalam kehidupan bermasyarakat.
Purna tugas sebagai dosen tidak membuat peran Subaryono berakhir. Ia tetap aktif dalam membina generasi muda dan terlibat dalam kegiatan almamater. Dedikasinya di bidang pendidikan dan kontribusinya bagi masyarakat menjadikan Subaryono figur yang dihormati di ranah keilmuan dan sosial.