Rektor Unhan: Perang Lawan Terorisme Aksi Militer Dalam Penegakan Kedaulatan

Rico Afrido Simanjuntak ยท Rabu, 23 September 2020 - 06:34 WIB
Rektor Unhan: Perang Lawan Terorisme Aksi Militer Dalam Penegakan Kedaulatan

Rektor Universitas Pertahanan (Unhan), Laksdya TNI Amarulla Octavian. (Foto: Rico Afrido/ Sindo Media).

JAKARTA, iNews.id - Indonesia dinilai perlu belajar dari Selandia Baru dalam menangani terorisme. Selandia Baru tidak memiliki aturan yang lebih rinci seperti di Indonesia.

Rektor Universitas Pertahanan (Unhan), Laksdya TNI Amarulla Octavian mengatakan, jika aparat di Indonesia memiliki komitmen tinggi, koordinasi maupun bergerak bersama akan lebih mudah dilaksanakan.

"Kenapa Selandia Baru itu berhasil karena komitmen antara aparatnya itu tinggi, jadi meskipun aturannya lemah, meskipun aturannya tumpang tindih," ujar Amarulla dalam webinar bertajuk, Operasi Militer Selain Perang TNI: Kontra Terorisme Dalam Perspektif Keamanan Nasional, Selasa (22/9/2020).

Dia tidak sepakat adanya pihak yang berperan sebagai leading sector dari penanganan terorisme. Menurutnya, yang terpenting dalam penanganan terorisme, yaitu bergerak bersama.

"Jadi jangan sampai misalnya ada kalimat di dalam undang-undang, TNI baru boleh bergerak jika polisi sudah dianggap tidak mampu, ya ini tentu saja menyinggung perasaannya polisi," ucapnya.

Dia menyampaikan, perang melawan tindak terorisme harus membangun kerja sama lintas negara dalam bentuk kerja sama keamanan (security cooperation) dengan semua negara dan organisasi internasional di dunia.

"Perang melawan tindak pidana terorisme adalah aksi militer dalam konteks penegakan hukum dan atau penegakan kedaulatan," tuturnya.

Perang melawan terorisme, katanya tidak lagi mengandalkan aktor penyelenggara keamanan nasional semata. "Tetapi sudah harus melibatkan banyak lembaga negara dan semua institusi pemerintah lainnya," katanya.

Editor : Kurnia Illahi