RI Jajaki Kerja Sama Industri dengan China, Durian hingga Kakao Jadi Andalan
Dalam pertemuan di Kementerian Pertanian dan Pedesaan Tiongkok pada 12 Oktober, delegasi Indonesia dijadwalkan membahas peluang kerja sama di bidang pertanian modern, teknologi produksi, pengolahan hasil pertanian, dan revitalisasi ekonomi pedesaan.
Pembahasan tersebut juga melibatkan Chinese Academy of Agricultural Sciences (CAAS) dan Foreign Economic Cooperation Center (FEC).
Sejumlah komoditas unggulan dari kawasan transmigrasi berpotensi menjadi fokus penjajakan kerja sama. Komoditas tersebut meliputi durian di Sulawesi Tengah, kelapa genjah di Nusa Tenggara Timur, kelapa di Maluku Utara, serta padi, kakao, kopi, dan tebu di Papua.
Iftitah menekankan pentingnya kerja sama yang melampaui peningkatan produksi bahan mentah. Menurut dia, Indonesia juga membutuhkan industri pengolahan, akses pasar, transfer teknologi, dan penyiapan tenaga kerja lokal.
“Kita punya durian, kelapa, kopi, kakao, dan banyak komoditas unggulan lainnya. Tetapi kita tidak ingin berhenti sebagai penghasil bahan mentah. Kita ingin lebih banyak produk diolah di Indonesia, lebih banyak nilai tambah tinggal di daerah, dan lebih banyak masyarakat memperoleh pekerjaan,” katanya.
Selain itu, Iftitah dijadwalkan memberikan kuliah umum di Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD), Peking University. Universitas tersebut disebut sebagai perguruan tinggi nomor satu di Tiongkok dan peringkat ke-13 dunia.
“Kita tidak hanya membutuhkan penelitian yang berakhir menjadi laporan. Kita membutuhkan pengetahuan yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan di lapangan: bagaimana meningkatkan produktivitas, menarik investasi, membangun industri, dan memastikan masyarakat setempat memperoleh manfaat ekonominya,” kata Iftitah.
Editor: Puti Aini Yasmin