Riset INSIS: Anggota DPR Milenial Tak Banyak Bersuara

Wildan Catra Mulia ยท Sabtu, 30 November 2019 - 19:48 WIB
Riset INSIS: Anggota DPR Milenial Tak Banyak Bersuara

Anggota termuda DPR Hillary Brigitta Lasut (kanan) memimpin sidang paripurna pelantikan MPR/DPR/DPD di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (1/10/2019). (Foto: Koran SINDO).

JAKARTA, iNews.id - Kehadiran perwakilan politikus milenial di gedung semula digadang-gadang menjadi harapan baru bagi masa depan politik Indonesia. Terhitung ada elit anggota DPR milenial yang sekarang duduk di parlemen. Namun dari sisi pembentukan opini publik di media massa, politikus milenial belum banyak bersuara dan mewarnai pertarungan opini pada kurun Oktober 2019.

Berdasarkan hasil penelitian Institut Riset Indonesia (INSIS) bertajuk ”Citra Politikus Senayan di Enam Media Massa” sepanjang Oktober 2019, hanya 203 anggota DPR yang diterima oleh media cetak dan online. Data ini dihitung dari 1,765 judul berita yang diolah dari pemberitaan dua media online serta empat media cetak.

Dari 1.765 judul berita yang dibuat unit analisis, hanya 45 publikasi yang mengutip politikus milenial sebagai narasumber berita. Artinya, dari 1.700 lebih judul berita, anggota DPR baru mengisi 2,5 persen ruang publikasi di enam media massa yang digunakan unit analisis. Sementara itu, ada 177 judul berita yang mengutip politikus muda tentang politikus yang dibuka 31-40 tahun.

“Ini merupakan temuan yang sangat menarik. Diskusi publik tentang generasi millenial yang sangat ramai dikunjungi oleh kemampuan politikus millenial untuk ikut serta meramaikan wacana di media massa. Padahal mereka saat ini sudah menjadi politikus nasional, ”ujar Peneliti Founding Fathers House Dian Permata di Jakarta, Sabtu (30/11/2019).

Dian menuturkan, dari hasil data olah raga politikus milenial yang usianya di bawah 31 tahun harus bersaing dengan politikus Bila dihitung secara total, maka pemberitaan yang mengutip politikus milenial dan politikus muda mencapai 12,5 persen.

“Artinya, politikus menyetujui 41 hingga 60 tahun menentang pemberitaan di enam media massa yang kami jadikan unit analisis. Dari data tersebut, sudah dikeluarkan anggota DPR milenial ini ikut menanggapi isu-isu politik yang bergulir dinamis, ”ucap anggota tim pakar pemerintah Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum ini.

Dian mencontohkan Hillary Brigita Lasut. Anggota DPR milenium terbilang mendapat atensi media di awal kemunculannya sejak dilantik. Usia muda yang menjadi pematik publikasi soal Hillary.

Itu terlihat dari data pada minggu pertama hingga kedua. Namun, pada minggu ketiga dan keempat, porsi kemunculan tidak ada sama sekali. “Joss di awal, ambyar kemudian,” ucapnya.

Sementara itu, peneliti komunikasi politik dari INSIS Wildan Hakim mengatakan, rendahnya kontribusi pemberdayaan dari politikus milenial ini lebih banyak dipicu oleh dua faktor. Pertama, ketidaksiapan para politikus milenial untuk menyatakan opini mereka di depan pid. Kedua, rendahnya kesadaran politikus tentang peran penting media massa sebagai media komunikasi politik.

“Pemahaman yang baik terhadap isu dan isi menjadi sangat penting. Sebab, para politikus di Senayan ini merupakan politikus nasional. Paham isu tidak cukup, isi atau substansi dari isu juga harus dikuasai secara baik agar peran anggota parlemen sebagai wakil rakyat ini bisa terlihat dan terasa,” ujar Wildan.

Dia menjelaskan, dalam riset bertajuk "Citra Politikus Senayan di Enam Media Massa" itu terdapat 1.765 judul berita dari berbagai tema yang dijadikan unit analisis. Dari angka tersebut, terdapat 1.427 judul berita bertemakan politik dan 264 berita bertemakan hukum.

Sepanjang Oktober 2019 lalu, berita politik yang disajikan banyak mengulas seputar perebutan kursi pimpinan MPR, amendemen UUD 1945 dan GBHN, pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI, serta Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang atau Perppu KPK.

“Seharusnya isu-isu ini bisa direspons juga oleh politikus millenial sehingga kiprah mereka politikus generasi baru ini segera terlihat. Nah, hasil riset media monitoring kami menunjukkan, dari delapan politikus milenial hanya tiga yang dikutip pernyataannya di enam media massa. Mereka, Hillary Brigita Lasut, Puteri Anetta Komaruddin, dan Rizki Aulia Rahman Natakusumah,” ucap Wildan Hakim yang juga dosen di FISIP Universitas Al-Azhar ini.

Fungsi Tenaga Ahli

Bercermin pada hasil olah data pemberitaan di enam media massa itulah, Dian Permata mengingatkan peran penting Tenaga Ahli. Para TA yang direkrut Sekretariat Jenderal DPR bertugas mendampingi para anggota DPR. Menurut di, sudah saatnya para Tenaga Ahli ini memainkan peran untuk mengarahkan anggota DPR dalam memahami isu secara lebih baik. Pemahaman isu yang baik diharapkan bisa menjadikan para anggota DPR memproduksi berita yang terbaca oleh publik.

Hal senada diungkapkan Wildan. Menurut dia, peran Tenaga Ahli di DPR akan bisa terlihat jika mereka memiliki kompetensi yang juga dilengkapi dengan alat yang memungkinkan mereka membaca isu secara lebih baik. Dengan kemampuan membaca isu, para Tenaga Ahli yang bekerja untuk politikus milenial ini bisa mengarahkan mereka untuk merespon isu secara lebih cepat.

“Dari pendataan kami, para politikus milenial ini muncul di media pada minggu pertama dan kedua. Pada minggu keempat tidak ada pendapat mereka terbaca, ”ucapnya.

Editor : Zen Teguh