Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Sidang Perdana Praperadilan Jilid II Roy Suryo Digelar di PN Jaksel Hari Ini 
Advertisement . Scroll to see content

Roy Suryo Sindir PDIP soal E-KTP, Cuci Mulut Dulu sebelum Komentar

Minggu, 25 Maret 2018 - 16:13:00 WIB
Roy Suryo Sindir PDIP soal E-KTP, Cuci Mulut Dulu sebelum Komentar
Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Roy Suryo. (Foto: Sindonews/Dok).
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Partai Demokrat terus menepis tudingan politisi PDIP yang menyebut kasus dugaan korupsi KTP elektronik (e-KTP) akibat pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Demokrat mengingatkan bahwa proyek e-KTP tidak cuma dibahas eksekutif, melainkan juga legislatif.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Roy Suryo Notodiprojo meminta politisi PDIP untuk berpikir terlebih dahulu sebelum melontarkan pernyataan yang menuding pihak lainnya.

"Lebih baik sebelum bicara, kita cuci mulut dulu. Jadi kata-kata yang dikeluarkan baik," ujar Roy usai menghadiri paparan survei PolcoMM Institute di Jakarta, Minggu (25/3/2018).

Menurut Roy, meski pengadaan proyek e-KTP berlangsung pada pemerintahan SBY, tapi pembahasan anggaran melibatkan anggota legislatif atau DPR. Dia pun menyindir bahwa terdakwa Setya Novanto (Setnov) menyebut ada anggota Fraksi PDIP saat itu yang turut menerima uang E-KTP.

Roy menjelaskan, legislatif memegang peran penting dari sisi fungsi anggaran karena pemerintah hanya bersifat mengusulkan. Jika suatu proyek disetujui, ketok palu dilakukan Badan Anggaran DPR. "Kemudian dibahas di legislatif, baru kemudian dikembalikan lagi pada pemerintah," katanya.

Atas dasar itu, menurut Roy, partai oposisi maupun tidak, semuanya berpeluang melakukan tindak pidana korupsi. "Kami dari Partai Demokrat  senyum saja karena sebenarnya yang menyatakan statement itu kan Pak Setnov dari Golkar, menyebut dua nama dari PDIP. Ya sudah, kembali ke situ saja, jangan yang lain lagi," sindirnya.

Seperti diketahui, dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis, 22 Maret 2018, Setnov menyebut Puan Maharani dan Pramono Anung menerima uang proyek e-KTP 500 ribu dolar AS.

Atas tudingan itu, Hasto pun mengklarifikasi. Dia menyebut PDIP bukan partai penguasa ketika proyek e-KTP berjalan. Selama masa pemerintahan Presiden SBY, PDIP berada di luar kabinet. Bahkan, dalam beberapa keputusan strategis di DPR yang dilakukan melalui pemungutan suara terbanyak (voting) partainya selalu dikalahkan.

Dia mencurigai, dalam persoalan e-KTP ini ada upaya untuk menyalahkan PDIP. “Kami bukan dalam posisi designer, kami bukan penguasa, dengan demikian atas apa yang disebutkan oleh Setnov, kami pastikan tidak benar, dan kami siap diaudit,” katanya.

Hasto juga meminta Menteri Dalam Negeri era SBY, Gamawan Fauzi, memberikan jawaban secara gamblang terkait akar persoalan dugaan korupsi e-KTP.

Editor: Zen Teguh

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut