Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Loyo, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.913 per Dolar AS
Advertisement . Scroll to see content

Rupiah Diprediksi Melemah Hari Ini, Dolar AS Bisa Tembus Rp17.960

Selasa, 13 Oktober 2026 - 08:18:00 WIB
Rupiah Diprediksi Melemah Hari Ini, Dolar AS Bisa Tembus Rp17.960
Ilustrasi nilai tukar rupiah diprediksi anjlok pada Selasa (13/10/2026). (Foto: iNews.id)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Tekanan dari kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) serta ketidakpastian terkait status pasar saham Indonesia menjadi faktor yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah berpotensi ditutup pada kisaran Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh ekspektasi kelanjutan pengetatan moneter The Fed serta kekhawatiran seputar stabilitas pasar modal domestik,” ujar Ibrahim di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Tekanan eksternal terhadap rupiah meningkat setelah sejumlah pejabat The Fed kembali membuka peluang kenaikan suku bunga acuan. Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menilai pengetatan kebijakan moneter lanjutan masih diperlukan untuk membawa inflasi kembali ke tingkat sasaran.

Sinyal serupa disampaikan Gubernur The Fed Christopher Waller. Dia mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan jika data ekonomi yang dirilis sesuai dengan perkiraan.

Sepanjang pekan ini, pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi AS, mulai dari inflasi konsumen dan produsen hingga data penjualan ritel. Pernyataan lanjutan para pejabat bank sentral AS juga menjadi perhatian untuk membaca arah kebijakan moneter berikutnya.

Prospek suku bunga tinggi membuat investor mewaspadai potensi berlanjutnya penguatan indeks dolar AS di pasar internasional. Ketidakpastian tersebut mendorong pelaku pasar valuta asing mengambil posisi lebih berhati-hati.

“Pernyataan hawkish dari pejabat The Fed memperkuat sinyal bahwa suku bunga tinggi masih berpeluang naik untuk menekan inflasi ke target sasaran. Pasar valuta asing saat ini mencermati rilis inflasi konsumen dan produsen serta data penjualan ritel AS guna memastikan arah kebijakan bank sentral tersebut,” tutur Ibrahim.

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada pengumuman lembaga penyedia indeks pasar modal global, MSCI, terkait potensi pembekuan status pasar saham Indonesia hingga risiko penurunan klasifikasi ke Frontier Market.

Keputusan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi prospek bursa saham domestik. Penanganan persoalan yang mendasari evaluasi MSCI menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan durasi dan dampak status khusus tersebut.

“Potensi pembekuan hingga degradasi status bursa saham oleh MSCI amat menghantui pasar keuangan Indonesia dan berisiko memicu keluarnya arus modal asing. Jika perbaikan regulasi tidak segera tercapai, ancaman penurunan klasifikasi ke Frontier Market akan menjadi beban berkepanjangan bagi stabilitas rupiah,” kata Ibrahim.

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut