Rupiah Ditutup Kembali Menguat ke Rp17.897 per Dolar AS, Ini Faktor Pendorongnya
BI juga terus bersinergi dengan Pemerintah untuk memperkuat ketahanan eksternal demi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Namun, ruang penguatan rupiah dibayangi oleh memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah serta ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral AS. Konflik di jalur pelayaran strategis global memicu kekhawatiran baru yang membuat investor cenderung bersikap defensif.
"Sentimen eksternal dipengaruhi oleh ketegangan di Selat Hormuz setelah Iran menyerang target bermusuhan, ditambah potensi kenaikan suku bunga oleh Fed Chair Kevin Warsh pada September jika inflasi AS tetap tinggi," tuturnya.
Media Iran melaporkan bahwa Teheran telah menyerang "target-target bermusuhan" di Selat Hormuz dan berencana melarang kapal-kapal AS serta Israel melintas, meski kesepakatan dengan Oman untuk membuka kembali jalur pelayaran sudah memasuki tahap akhir.
Di sisi lain, pasar kini memperkirakan peluang sebesar 60 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September menyusul laporan Financial Times terkait kesiapan Kevin Warsh dalam mengendalikan inflasi.
Kondisi ini membuat para pelaku pasar menanti rilis data nonfarm payrolls AS pada hari Jumat sebagai ujian berikutnya bagi arah kebijakan moneter. Para pembuat kebijakan dipandang tidak dapat membiarkan inflasi tinggi bertahan lama sembari berspekulasi bahwa pertumbuhan produktivitas pada akhirnya akan meredakan tekanan harga.
Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.890-Rp17.940 per dolar AS, sementara untuk perdagangan minggu depan diperkirakan di level Rp17.780-Rp18.020 per dolar AS.
Editor: Aditya Pratama