Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Anjlok ke Rp18.168 per Dolar AS
Advertisement . Scroll to see content

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.089 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya

Jumat, 06 November 2026 - 15:59:00 WIB
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.089 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya
Nilai tukar rupiah melemah ke Rp18.089 per dolar AS pada perdagangan Jumat (6/11/2026) akibat tekanan geopolitik dan kekhawatiran fiskal. (Foto: ist)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada penutupan perdagangan Jumat (6/11/2026). Rupiah turun 7 poin atau 0,04% ke level Rp18.089 per dolar AS akibat tekanan sentimen geopolitik dan kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan eksternal datang dari meningkatnya serangan terhadap kapal tanker di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia.

Menurut United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), sedikitnya lima kapal melaporkan insiden sejak Minggu. Frekuensi serangan tersebut mendekati rekor Oktober yang mencatat 35 insiden melibatkan kapal.

“Korps Garda Revolusi Islam menyatakan bahwa dua kapal tanker minyak dan satu kapal tunda terbakar dalam insiden terpisah setelah mencoba melintasi rute yang tidak sah melalui Selat Hormuz,” tulis Ibrahim dalam risetnya dikutip Jumat (6/11/2026).

Arab Saudi juga mengeluarkan peringatan mengenai potensi bahaya di sekitar Yanbu, salah satu pusat ekspor minyaknya di Laut Merah. Peringatan tersebut muncul di tengah berlanjutnya serangan kelompok militan Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran.

Ketidakpastian geopolitik semakin meningkat setelah pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat. Partai Demokrat berhasil mengambil alih kendali kedua majelis Kongres dari Partai Republik yang mendukung Presiden Donald Trump.

Hasil pemilihan tersebut sempat memunculkan harapan adanya tekanan politik untuk mempercepat penyelesaian konflik. Namun, hasil tersebut belum menjamin tercapainya terobosan diplomatik.

Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi membahas perkembangan diplomasi untuk mendorong stabilitas kawasan melalui pembicaraan telepon terpisah dengan mitranya dari Arab Saudi dan Qatar. Komunikasi tersebut menunjukkan jalur diplomasi masih terbuka.

Kekhawatiran pasokan energi juga meluas ke luar Timur Tengah. Ukraina kembali melancarkan serangan terhadap kilang minyak Rusia. Berdasarkan analisis video Reuters, kilang Ryazan yang merupakan salah satu kilang terbesar di Rusia diduga menjadi sasaran serangan pesawat nirawak atau drone pada malam sebelumnya.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kekhawatiran investor mengenai kondisi fiskal Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Di sisi lain, komitmen belanja pemerintah yang besar membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit sehingga menimbulkan perhatian investor terhadap defisit anggaran dan keberlanjutan fiskal,” kata Ibrahim.

Sebagai gambaran, hingga akhir Oktober 2026, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) mencapai USD93 per barel. Angka tersebut jauh di atas asumsi APBN.

Pemerintah juga menaikkan anggaran subsidi dan kompensasi energi dari Rp338 triliun menjadi Rp500 triliun. Kondisi ini menjadi perhatian investor karena berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk membiayai program pembangunan lainnya.

Tekanan terhadap rupiah semakin besar akibat arus keluar modal asing yang masih berlanjut. Investor cenderung berhati-hati karena mempertimbangkan risiko pelemahan rupiah, inflasi impor, serta ketahanan fiskal pemerintah.

Menurut Ibrahim, pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat belum tentu langsung mendorong penguatan rupiah. Investor juga memperhatikan kualitas pertumbuhan ekonomi, kemampuan pemerintah membiayai belanja negara, risiko defisit anggaran, dan konsistensi kebijakan ekonomi.

Jika kekhawatiran terhadap kondisi fiskal terus meningkat dan arus modal asing masih keluar, rupiah berpotensi tetap berada dalam tekanan.

Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam kisaran Rp18.080-Rp18.130 per dolar AS.

Untuk perdagangan pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp17.920-Rp18.220 per dolar AS. Sementara itu, sepanjang November 2026, Ibrahim memperkirakan rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh Rp18.500 per dolar AS.

Editor: Donald Karouw

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut