JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan, Selasa (20/10/2026). Mata uang garuda naik 54 poin atau 0,30 persen ke Rp17.992 per dolar AS atau meninggalkan level Rp18.000.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen datang dari eksternal yakni perintah eksekutif yang diterbitkan oleh Presiden AS Donald Trump pada Jumat malam mencabut sanksi dan tarif utama AS yang berkaitan dengan Rusia, termasuk bea atas barang-barang dari negara tersebut serta penalti bagi pihak yang membeli minyak dan gas Rusia.
BI Siapkan Intervensi Jaga Rupiah, Inflasi Pangan Jadi Perhatian
“Namun, pada hari Sabtu, Trump menyatakan bahwa ia belum mengambil keputusan akhir terkait masalah ini, sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan bahwa para pejabat memerlukan lebih banyak waktu untuk mengevaluasi situasi tersebut,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran menyatakan pada hari Senin bahwa mereka telah melancarkan sejumlah serangan terhadap target-target energi, bandara, dan militer di Arab Saudi.
Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Kembali Melemah ke Rp18.046 per dolar AS
Target tersebut mencakup fasilitas Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, serta bandara di Abha.
Pihak berwenang Arab Saudi tidak segera mengonfirmasi klaim tersebut, dan Reuters tidak dapat memverifikasinya secara independen.
Kisah Sukses BJ Habibie Perkuat Rupiah saat Krisis 1998, Melesat ke Rp6.500 per Dolar AS
Serangan-serangan baru ini meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan dan menegaskan risiko yang terus ada terhadap pasokan energi dari wilayah tersebut, sehingga menjaga harga minyak tetap berada di atas $100 per barel.
Pernyataan terbaru dari para pejabat The Fed juga mengisyaratkan keterbukaan terhadap pengetatan lebih lanjut, meskipun mereka belum memberikan sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga pada pertemuan pada 27–28 Oktober.
Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp18.027 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
Saat berbicara di Bangkok pada hari Jumat, Ketua The Fed Kevin Warsh tetap pada pendiriannya untuk menghindari pemberian panduan ke depan.
Minggu ini, agenda ekonomi AS tidak akan diisi oleh pidato dari para pejabat Federal Reserve (The Fed) karena bertepatan dengan periode blackout (masa tenang) menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Oktober.
Dari sentimen dalam negeri, realisasi investasi Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun atau 75,4 persen dari target tahun ini, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 2.194.496 orang.
Capaian realisasi investasi triwulan III 2026 mencapai Rp528,7 triliun. Sementara itu, total investasi dari Januari sampai September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun atau 75,4 persen dari target.
Realisasi investasi selama sembilan bulan pertama 2026 terdiri atas penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp777,8 triliun atau 50,5 persen dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp761,4 triliun atau 49,5 persen.
Secara kumulatif, realisasi investasi selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang dihitung sejak triwulan IV 2024 hingga triwulan III 2026, mencapai Rp3.923,2 triliun.
Investasi tersebut menyerap 5.485.944 tenaga kerja, dengan kontribusi wilayah Jawa sebesar Rp1.892,2 triliun atau 48,2 persen dan luar Jawa Rp2.031 triliun atau 51,8 persen.
Pemerintah menetapkan target investasi sebesar Rp13.032,8 triliun untuk periode 2024–2029 guna mendukung sasaran pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029.
Dari total investasi kumulatif tersebut, PMDN mencapai Rp1.998,7 triliun atau 50,9 persen, sedangkan PMA sebesar Rp1.924,5 triliun atau 49,1 persen.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.900-Rp18.040 per dolar AS.
Editor: Aditya Pratama