Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Rupiah Diprediksi Melemah Hari Ini, Dolar AS Bisa Tembus Rp17.960
Advertisement . Scroll to see content

Rupiah Nyaris Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, BI Gencar Intervensi Jaga Stabilitas

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:58:00 WIB
Rupiah Nyaris Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, BI Gencar Intervensi Jaga Stabilitas
Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS di tengah tekanan global. (Foto: ilustrasi/Okezone) 
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan dan memanasnya ketegangan geopolitik.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G Hutapea menjelaskan, data inflasi AS yang melampaui ekspektasi pasar memicu spekulasi mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

"Rilis data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkat dari periode sebelumnya mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif oleh The Fed," kata Erwin dalam keterangannya, Kamis (15/10/2026).

Selain inflasi dan prospek suku bunga AS, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah turut menambah tekanan terhadap pasar keuangan global. Kondisi tersebut juga berdampak pada harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

"Selain itu, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 105 dolar AS per barel dan meningkatkan risiko fiskal ke depan. Indeks dolar AS (DXY) sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan yield US Treasury tenor 2 tahun sempat naik 12 bps ke level 4,90 persen," jelas dia.

Erwin menambahkan, meningkatnya sentimen penghindaran risiko atau risk-off mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu arus modal keluar (capital outflow) dari aset-aset negara berkembang (emerging markets).

Meski menghadapi tekanan eksternal, Erwin menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan dinamika mata uang di kawasan regional. Pelemahan rupiah secara quarter-to-date (QTD) atau sejak awal kuartal tercatat sebesar 0,17 persen.

"Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,17 persen. Cadangan devisa tercatat terjaga di level 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026," kata dia.

Untuk meredam volatilitas nilai tukar, BI terus melakukan intervensi melalui berbagai instrumen di pasar keuangan, baik di dalam maupun luar negeri.

"Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," ucapnya. 

Selain intervensi, BI menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang serta memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan pelaku pasar maupun korporasi.

"Selain itu, Bank Indonesia mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif," tuturnya.

Pada perdagangan Kamis (15/10/2026), rupiah dibuka melemah di tengah tekanan sentimen domestik dan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS atau Fed Funds Rate (FFR) pada bulan ini.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot dibuka terdepresiasi 0,3 persen ke level Rp17.956 per dolar AS.

Sehari sebelumnya, Rabu (14/10/2026), rupiah ditutup melemah di kisaran Rp17.902 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang domestik dipengaruhi penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta aksi jual aset portofolio oleh investor asing di pasar negara berkembang.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut