Rupiah Sentuh Rp18.000 per Dolar AS Pagi Ini, Terendah Sepanjang Sejarah
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, kejatuhan rupiah hari ini didorong oleh perpaduan sentimen eksternal dan kondisi makroekonomi dalam negeri. Untuk sisa perdagangan hari ini, rupiah diproyeksikan akan bergerak dengan tingkat fluktuasi tinggi pada rentang Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS.
DEN Optimistis Pelemahan Rupiah Mereda pada Juli 2026, Ini Alasannya
Dari lanskap global, perhatian pelaku pasar tertuju pada memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Konflik militer kian meruncing setelah tentara Israel memperpanjang operasi tempurnya di wilayah Lebanon selatan, yang kemudian direspon oleh Iran lewat peluncuran rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain.
"Putaran pembicaraan lain yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan Rabu, sementara ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran," kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, daya tarik rupiah di mata investor ikut merosot merespons rilis data inflasi bulanan. Berdasarkan laporan terbaru, angka inflasi Indonesia pada periode Mei 2026 melonjak ke level 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), memperlihatkan laju peningkatan yang lebih tinggi ketimbang realisasi bulan April 2026 yang berada di angka 0,13 persen.
Meskipun laju inflasi mengalami kenaikan, struktur eksternal Indonesia sebenarnya masih ditopang oleh kinerja ekspor-impor yang positif. Neraca perdagangan nasional pada bulan April 2026 dilaporkan tetap mencatatkan surplus senilai 89,1 juta dolar AS.
Dengan torehan tersebut, Indonesia berhasil memperpanjang rekor impresif dengan mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan secara berturut-turut sejak Mei 2020.
Editor: Aditya Pratama