Sampah Datang, Spanduk Bertindak: Ketika Doa dan Amarah Bersatu Demi Lingkungan
Fenomena spanduk juga menunjukkan kuatnya komunikasi partisipatif di tingkat komunitas. Servaes (2008) mengemukakan bahwa komunikasi partisipatif memungkinkan warga untuk tidak hanya menjadi penerima pesan dari otoritas, tetapi juga pencipta dan pengirim pesan itu sendiri. Warga pemasang spanduk adalah subjek yang berperan aktif dalam komunikasi sosial. Mereka mengambil inisiatif sendiri tanpa menunggu kebijakan atau instruksi dari pihak yang lebih berwenang.
Warga juga turut membentuk opini publik dan mengarahkan perilaku sosial melalui narasi pesan yang mereka ciptakan. Dalam hal ini, komunikasi berjalan secara horisontal, dan lebih demokratis. Inilah esensi dari media komunitas. Media dibuat oleh, dari, dan untuk masyarakat itu sendiri.
Narasi ini diperkuat oleh kesaksian Sugiman, salah satu warga dan tokoh lingkungan di perumahan tersebut. Ia menyatakan bahwa upaya menjaga kebersihan lingkungan telah dilakukan berkali-kali, namun gagal.
"Sebelumnya itu kita pasang spanduk dengan isi undang-undang dan etika seperti 'bersih negeriku', tapi hanya bertahan tiga hari, spanduk hilang, sampah malah nambah," ujarnya.
Akhirnya, muncul ide untuk membuat spanduk bernada sumpah serapah sebagai bentuk ekspresi kekesalan kolektif warga.