Sejarawan: Covid-19 Mirip Wabah Flu Spanyol 1918, Pemerintah Kolonial saat Itu Panik

Kurnia Illahi ยท Sabtu, 01 Agustus 2020 - 15:20 WIB
Sejarawan: Covid-19 Mirip Wabah Flu Spanyol 1918, Pemerintah Kolonial saat Itu Panik

Sejarawan Universitas Indonesia Tri Wahyuning M Irsyam. (Foto: BNPB).

JAKARTA, iNews.id - Wabah virus corona (Covid-19) yang melanda dunia saat ini dinilai mirip dengan kondisi saat terjadi wabah flu Spanyol pada 1918. Saat itu pemerintah kolonial rutin menyosialisasikan tentang protokol kesehatan pencegahan penularan penyakit mematikan tersebut.

Sejarawan Universitas Indonesia Tri Wahyuning M Irsyam mengatakan, upaya itu dilakukan pemerintah kolonial Hindia Belanda karena tidak semua orang pada saat itu bisa membaca koran dan mendapatkan informasi yang benar.

"Petugas pemerintah kolonial rutin berkeliling menggunakan mobil untuk menyosialisasikan penyakit itu mematikan, lebih baik di rumah saja, memakai masker dan menjaga kebersihan," ujar Tri di acara diskusi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 yang disiarkan secara virtual dari Graha BNPB Indonesia, Jakarta, Sabtu (1/8/2020).

Dia menuturkan, pemerintah kolonial gencar sosialisasi secara langsung agar masyarakat tidak menganggap remeh dan tetap waspada terhadap flu Spanyol yang sedang mewabah.

Saat itu, kata dia terdapat perbedaan sudut pandang antara pemerintah kolonial dengan masyarakat dalam menanggapi flu spanyol.

"Masyarakat memandang penyakit tersebut bersumber dari alam seperti debu, angin dan lain-lain. Sementara pemerintah kolonial melihat sumber penularan berasal dari luar, yaitu orang-orang pendatang yang menjadi pembawa virus," tuturnya.

Menurutnya, pada masa awal flu Spanyol terjadi, pemerintah negara-negara di dunia maupun masyarakat tidak ada yang siap. Indikasinya terlihat dari penanganan yang lamban.

Dia menyampaikan, ketika wabah penyakit mulai terjadi dan sejumlah orang mulai memperlihatkan gejala tertentu, para petinggi sejumlah negara terkesan abai dengan fenomena yang terjadi di masyarakat.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda, kata dia ketika sudah ada laporan dari daerah melalui telegram yang menyatakan sudah ada banyak korban, di antaranya dari Bali dan Banyuwangi, laporan itu tertahan di lembaga yang secara administratif setara dengan sekretariat negara selama berbulan-bulan.

Menurut dia, masyarakat akhirnya lebih mengedepankan upaya pengobatan tradisional. Di dalam Serat Centini disebutkan sejumlah bahan-bahan alami seperti jamu yang kerap digunakan sebagai pengobatan

"Karena tidak mendapat tanggapan, pemerintah kolonial di daerah akhirnya menjadi panik dan menyerahkan kepada masyarakat agar bertindak sendiri," ucapnya.

Editor : Kurnia Illahi