Sekjen PKB Muhammad Hasanuddin Wahid, Magister Filsafat yang Memperindah Partai
JAKARTA, iNews.id - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar telah menunjuk Wakil Ketua Umum Bidang Kesra dan Perekonomian Muhammad Hasanuddin Wahid sebagai sekjen menggantikan Hanif Dhakiri. Nama terakhir diplot sebagai wakil ketua umum Bidang Ideologi dan Kaderisasi.
Selama ini, nama M Hasanuddin Wahid belum cukup populer di kalangan media. Siapakah dia? Pada Senin, 26 Agustus 2019 malam, iNews.id berhasil menemui sosok ini di Kantor DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat.
Ternyata, Hasan bukan orang baru di DPP PKB. Selama ini, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 2 April 1975 ini merupakan salah satu wakil sekjen.
"Saya Wakil Sekjen sejak 2012, sampai sekarang sudah 7 tahun. Jadi, emang enggak (tampil) di publik, (tugasnya) ngerapihin partai. Dari 2012 sampai 2019 ya lumayan. Sejak Imam Nahrawi sekjennya, 2014 Mas Hanif, kemudian Mas Karding, kemudian Mas Hanif lagi. Baru sekarang ini Sekjen," tuturnya.
Muhammad Hasanuddin Wahid Ditunjuk sebagai Sekjen PKB
"Jadi, memang orang enggak tahu. Kan PKB dibagi. Ada wasekjen yang ngurusi internal. Jadi, memang orang enggak tahu kalau saya sudah tujuh tahun jadi wasekjen," katanya.
Memegang posisi wasekjen bidang internal selama tujuh tahun, lulusan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang kemudian melanjutkan pendidikan magister filsafat di Universitas Indonesia (UI) ini mengaku sudah cukup memahami seluk belum kepartaian, khususnya PKB.
Putra Kiai Ma'ruf Amin dan Ketua Umum GP Ansor Masuk DPP PKB
"Saya sudah mengikuti dua kali verifikasi faktual di KPU, mengikuti dua kali pileg, dua Muktamar ini," tutur Hasan yang sebelum menjabat di kepengurusan DPP PKB juga pernah menjadi Sekjen Gerakan Pemuda Kebangkitan Bangsa (Garda Bangsa).
Bidang organisasi sangat lekat dengan sosok Hasan. Sebelum aktif di PKB, Hasan pernah menjadi Ketua Lembaga Kaderisasi Pengurus Besar Persatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (PB PMII) era kepemimpinan Abdul Malik Haramain (2003-2005). Jauh sebelumnya, Hasan juga pernah menjabat Ketua PMII Malang.
PKB Reborn yang Melek IT
Sebagai sekjen, Hasan bersama jajaran DPP PKB lainnya siap menjadikan partai yang identik dengan basis massa nahdliyin ini semakin maju. Dikatakan Hasan, budaya di PKB adalah kepemimpinan kolektif kolegial.
"Jadi bahwa kita terdeferensi menjadi ada waketum, ada ketua, ada wasekjen, ada departemen dan lain sebagainya, ini menjadi satu kesatuan petugas partai yang diberi mandat oleh mandataris mukmatar untuk bekerja secara kolektif, mewujudkan, menerjemahkan yang sudah ditetapkan di Muktamar kemarin," tuturnya.

Hasan meyakini PKB akan terus membesar. Keyakinan itu didasari tren yang terjadi dari beberapa pemilu terakhir. "Berkaca dari tren PKB pada Pemilu 2019, ke sini kan sudah reborn. Kami yakin bahwa partai ini akan terus membesar. 2019 kita sudah melampaui perolehan 1999," katanya.
Hasan mengklaim di bawah kepemimpinan Gus AMI, sapaan terkini Abdul Muhaimin Iskandar, PKB semakin matang. "Kita enggak melihat hiruk pikuk seperti di partai lain dan lain sebagainya. Kalau mau jujur. PKB ini konfliknya duluan, setelah itu adem," ujarnya.
Menurut dia, saat ini PKB sudah menjadi partai modern berbasis teknologi informasi (IT). "Masa depan itu IT. Partai yang tidak melek di medsos tidak terdigitalisasi dan lain sebagainya, itu pasti lewat dengan sendiri. Nah, PKB ini harus bergerak ke arah sana makanya sejak 2004 PKB menjadi partai modern," urainya.
Modernisasi partai itu ditunjukkan dengan menerapkan data center berupa e-KTA dan e-office. "Bahkan waktu verifikasi partai waktu zaman menjelang Pemilu 2014 itu menurut KPU, kita data terbaik karena kita (menggunakan) e-KTA.
Dikonfirmasi langsung ke sistem KPU langsung nyambung," paparnya.
"Perintah ketua umum adalah semaksimal mungkin kita sudah paperless. Semua perintah dan sebagainya itu sudah pakai IT dan sebagainya. Nah, itulah hal-hal yang enggak nampak di permukaan yang menjadi background salah satu fondasi kekuatan PKB untuk selalu naik suaranya," tuturnya.
Editor: Djibril Muhammad