Sendang Dawang, Mata Air Peninggalan Belanda Atasi Kekeringan Menahun di Grobogan
Untuk memastikan distribusi air yang lebih lancar, warga bersama Perhutani KPH Gundih membangun saluran pipa dari mata air ke desa. Air dialirkan ke tandon penampungan berukuran besar sebelum didistribusikan ke rumah-rumah warga melalui pipa-pipa kecil.
"Sendang Dawang ini mata air peninggalan zaman Belanda diperuntukkan Perhutani KPH Gundih dan saat itu Perhutani tidak memakai akhirnya dipakai warga," ujar Teguh Heri Susanto, Senin (9/6/2025).
Sementara itu, Kasi Perencanaan dan Pengembangan Bisnis KPH Gundih, Teguh Yuli Anggoro mengimbau agar warga menjaga kebersihan sekitar sumber mata air. Dia menekankan pentingnya kerja sama dalam menjaga saluran air agar kualitasnya tetap terjaga.
Dalam beberapa waktu terakhir, debit air dari Sendang Dawang mengalami penurunan, sehingga warga diimbau untuk lebih hemat dalam penggunaannya.
"Untuk kondisi Sendang memang debitnya agak menurun dibanding pada tahun-tahun sebelumnya," ucap Teguh Yuli Anggoro.
Perhutani dan warga pun terus melakukan upaya reboisasi guna memperkuat daerah tangkapan air. Selain itu, penanaman jagung di sekitar sendang kini dilarang agar tekstur tanah tetap stabil dan tidak mengganggu pertumbuhan tanaman keras yang telah berusia puluhan tahun.
Editor: Kurnia Illahi