Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : 5 Fakta Pilu Siswa SD di Ngada NTT Bunuh Diri, Nomor 3 Bikin Nyesek
Advertisement . Scroll to see content

Siswa SD di Ngada Bunuh Diri, Bupati Sebut Faktor Penyebab Sangat Kompleks

Rabu, 04 Februari 2026 - 20:28:00 WIB
Siswa SD di Ngada Bunuh Diri, Bupati Sebut Faktor Penyebab Sangat Kompleks
Bupati Ngada Raymundus Bena. (Foto: iNews TV)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Kasus siswa SD Ngada bunuh diri yang terjadi di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Bupati Ngada Raymundus Bena menegaskan, penyebab peristiwa tragis tersebut tidak bisa disimpulkan hanya karena ketidakmampuan membeli perlengkapan sekolah.

Korban merupakan siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) yang ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh dekat kebun milik neneknya. Peristiwa ini terjadi pada akhir Januari 2026 dan sempat meninggalkan surat perpisahan untuk sang ibu.

Bupati Ngada menjelaskan, setelah menerima laporan terkait siswa SD bunuh diri, pemerintah daerah langsung membentuk tim internal yang melibatkan sejumlah perangkat daerah, mulai dari PMD, Dinas Pendidikan hingga Dukcapil.

Menurut Bupati, dari laporan awal yang diterima, latar belakang kehidupan korban tergolong kompleks. Sejak kecil korban ditinggalkan ayahnya dan diasuh oleh neneknya, sementara sang ibu harus menghidupi lima anak dengan kondisi ekonomi terbatas.

“Dari laporan tertulis yang saya terima, latar belakang kehidupannya cukup kompleks. Dari kecil ditinggalkan ayahnya, tinggal dengan nenek, dan kondisi ekonomi keluarga yang berat,” ujar Bupati Ngada kepada iNews TV, Rabu (4/2/2026).

Bupati juga menepis anggapan bahwa peristiwa siswa SD Ngada bunuh diri semata-mata disebabkan karena tidak mampu membeli buku atau alat tulis.

“Kalau hanya menyimpulkan karena tidak bisa membeli ballpoint atau buku, saya rasa itu terlalu dini. Masalahnya jauh lebih kompleks,” katanya.

Berdasarkan pantauan sementara dari pihak sekolah, korban dikenal sebagai anak yang ceria, aktif, dan suka membantu. Tidak ada tanda-tanda mencolok yang menunjukkan tekanan psikologis berat saat berada di lingkungan sekolah.

Namun demikian, Bupati mengakui perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut, termasuk kemungkinan adanya tekanan psikologis yang tidak terdeteksi di sekolah maupun di rumah.

Sebelumnya, informasi yang beredar menyebutkan siswa SD bunuh diri diduga dipicu tekanan ekonomi dan ketidakmampuan membeli perlengkapan sekolah berupa buku dan pena. Dugaan ini diperkuat dengan pesan yang ditinggalkan korban.

Terkait bantuan pendidikan, Bupati Ngada menyebut pemerintah daerah telah memiliki sejumlah program, baik dari pusat maupun daerah, seperti Program Indonesia Pintar (PIP) dan bantuan seragam sekolah.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut