Sri Mulyani mengaku bahwa pelaksanaan APBN 2025 sangat dinamis dan menantang akibat berbagai faktor internal maupun eksternal. Faktor di dalam negeri meliputi adanya Kementerian/Lembaga (KL) baru, perubahan prioritas, serta adanya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 yang memicu rekonstruksi belanja cukup besar. Selain itu, penerimaan negara juga mengalami restitusi, khususnya pada awal tahun.
"Sehingga pelaksanaan APBN 2025 memang luar biasa menantang, tapi kami akan berusaha untuk menstabilkan dan menjaga agar APBN tetap terjaga sehat kredibel," tuturnya.
Meski dihadapkan pada kondisi global yang masih sangat dinamis dan menimbulkan ketidakpastian serta potensi gejolak perekonomian, APBN tetap harus menjadi instrumen yang bisa diandalkan.
Pemerintah berharap APBN dapat terus mendukung agenda prioritas nasional yang telah disampaikan Presiden, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan sektor kesehatan, program Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih, maupun ketahanan pangan.
"Namun tetap terjaga APBN. Kita berharap dengan defisit 2,78 persen memberikan signal bahwa APBN 2025 mendukung berbagai program penting dan di sisi lain menjadi signal kontrasiklikal terhadap perekonomian dunia yang cenderung melemah," ucap Sri Mulyani.
Dengan demikian, hal tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga kesehatan fiskal sekaligus merespons dinamika ekonomi global.
Editor: Aditya Pratama