Tak Hanya Bandara, Mantan Karyawan Sebut Ada Pelabuhan Privat Milik IMIP
JAKARTA, iNews.id - Mantan karyawan PT Indonesia Morowal Industrial Park (IMIP) menyebut perusahaan yang bermarkas di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah itu tidak hanya memiliki bandara khusus, tetapi juga pelabuhan privat. Sebelumnya, heboh bandara di PT IMIP beroperasi tanpa ada otoritas negara, seperti Bea Cukai hingga Imigrasi.
Mantan karyawan IMIP itu mengatakan, banyak kontainer dari China yang masuk ke Morowali melalui pelabuhan privat tersebut. Kontainer tersebut mengangkut berbagai barang dari China.
"Banyak kontainer yang masuk juga yang membawa seperti mata pacul, linggis, wajan, peralatan-peralatan pertukangan atau spare part kendaraan dari China, termasuk alat-alat berat, masuk dari laut, lewat pelabuhan," ujar pria yang tidak disebutkan namanya itu secara eksklusif dalam program Rakyat Bersuara bertajuk "Ada Bandara 'Hantu', Tanpa Otoritas Negara?" di iNews, Selasa (2/12/2025).
"Jadi mereka produk-produk UMKM China harus diakomodasi," tuturnya.
Dia juga mengaku pernah melihat langsung proses bongkar muat di pelabuhan privat tersebut. Dia pun memastikan tidak ada petugas Bea Cukai atau Imigrasi di pelabuhan itu.
"Ga ada petugas bea cukai dan imigrasi, karena itu pelabuhan privat, karena kan langsung masuk di situ. Waktu dibuka juga saya lihat, tahun 2015-2016an saya sempat dua kali lihat," katanya.
Sebelumnya, dia mengungkap bandara IMIP di Morowali, Sulawesi Tengah yang belakangan menjadi polemik karena diduga tanpa dilengkapi otoritas negara. Dia mengatakan, bandara itu dibangun untuk memobilisasi para tenaga kerja asing (TKA) China yang bekerja di perusahaan tersebut.
"Sebenarnya memang bandara itu diniatkan untuk mempermudah mobilisasi para tenaga kerja asing (China)," ucapnya.
Dia menjelaskan, sebelum bandara tersebut dibangun, mobilisasi para tenaga kerja dilakukan dengan rute yang sangat panjang.
"Selama saya di sana itu mobilisasi dilakukan menggunakan pesawat komersial dari Beijing ke Soetta, terus dari Soetta ke Bandara Halu Oleo Kendari, lalu dilanjutkan jalan darat sampai ke Teluk Kendari. Dari Teluk Kendari berganti menjadi speedboat sampai ke pelabuhan privat. Jadi sangat mahal biayanya," tuturnya.
Menurut dia, para TKA China yang dimobilisasi tergolong banyak. Bahkan menyentuh 50-100 orang per hari.
Editor: Aditya Pratama