Update! Kemenkes Pastikan Wabah Pes Rusia Belum Masuk Indonesia
JAKARTA, iNews.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan bahwa wabah pesRusia belum masuk Indonesia. Meski demikian, pemerintah memperketat surveilans dan meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi kemungkinan penyebaran penyakit tersebut.
Kepastian itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono saat ditemui di Kantor Kementerian Kesehatan, Minggu (11/10/2026). Dia mengaku telah menerima laporan dari Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes mengenai kondisi terkini di Indonesia.
"Saya sudah mendapatkan laporan dan langsung mendapatkan laporan dari Plt. Dirjen P2 bahwa di Indonesia belum ditemukan pes ini," kata Dante.

Dante menegaskan, Kemenkes akan terus memantau gejala-gejala yang berpotensi mengarah pada penyakit pes. Pemerintah juga memberikan panduan dan peringatan sebagai bagian dari langkah antisipasi.
"Kami tetap terus melakukan surveillance terhadap gejala-gejala yang timbul. Kami terus memberikan panduan dan peringatan terhadap gejala yang timbul, tapi ternyata sampai saat ini belum ditemukan adanya gejala penyakit pes tersebut di Indonesia," ucap dia.
Sebelumnya, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada notifikasi khusus terkait kewaspadaan penyakit pes melalui mekanisme International Health Regulations (IHR), National Focal Point (NFP), maupun Event Information Site (EIS) milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Kendati belum ada notifikasi khusus tersebut, Kemenkes tetap meningkatkan kesiapsiagaan di sejumlah fasilitas dan pintu masuk negara. Upaya ini melibatkan Balai Karantina Kesehatan, rumah sakit, laboratorium kesehatan masyarakat (Labkesmas), serta dinas kesehatan.
"Balai Karantina Kesehatan, RS, Labkesmas, Dinas Kesehatan terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan," tutur Aji.
Salah satu langkah antisipasi dilakukan melalui pengawasan pelaku perjalanan internasional, termasuk di bandara dan pelabuhan internasional di Bali. Pengawasan meliputi pemeriksaan deklarasi kesehatan, pemantauan tanda dan gejala penyakit, penilaian risiko terhadap alat angkut, serta surveilans tikus dan pinjal di pintu masuk negara.
"Bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan, pengamatan tanda gejala, risk-based assessment pada alat angkut, serta surveilans tikus dan pinjal pada tikus di pintu masuk negara," beber dia.
Menurut Aji, deteksi dini dilakukan melalui pemeriksaan dokumen kesehatan dan pengamatan kondisi fisik penumpang yang tiba dari luar negeri. Petugas juga disiapkan untuk melakukan respons cepat apabila menemukan pelaku perjalanan dengan gejala yang mengarah pada penyakit menular berisiko tinggi.
Gejala yang menjadi perhatian antara lain demam, batuk, dan sesak napas. Jika ditemukan penumpang dengan gejala yang mengarah pada plague atau pes, petugas kesehatan bandara akan merujuknya ke rumah sakit rujukan penyakit infeksi untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
"Deteksi awal dilakukan melalui analisis deklarasi kesehatan serta pengamatan tanda dan gejala, seperti demam, batuk, sesak napas, dan gejala lainnya. Apabila ditemukan pelaku perjalanan yang bergejala dan mengarah ke plague (pes), petugas kesehatan di bandara akan langsung merujuk kasus ke Rumah Sakit Rujukan Penyakit Infeksi untuk mendapatkan penanganan lanjutan," pungkas Aji.
Sebelumnya, kabar dugaan wabah pes di Rusia menjadi perhatian setelah sebuah tabung yang diduga berisi patogen Yersinia pestis, bakteri penyebab penyakit pes, dilaporkan pecah dan menewaskan seorang pekerja laboratorium pada 25 September 2026.
Editor: Muhammad Sukardi