Vaksin Tifoid Pertama Buatan Indonesia Resmi Diluncurkan, BPOM Approved!
JAKARTA, iNews.id – Indonesia resmi memiliki vaksin tifoid konjugat (Typhoid Conjugate Vaccine/TCV) pertama yang diproduksi di dalam negeri. Vaksin bernama Bio-TCV tersebut diluncurkan dalam ajang Medical Expo (Med-Expo) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) 2026.
Peluncuran vaksin hasil kolaborasi PT Bio Farma (Persero) dan FKUI itu menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional di tengah tingginya beban kasus demam tifoid di Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun telah memberikan persetujuan nomor izin edar (NIE) setelah melalui proses evaluasi mutu, keamanan, dan khasiat.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, hadirnya vaksin tifoid produksi dalam negeri menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat dan vaksin yang hingga kini masih mencapai 94 persen.
"Ketergantungan impor bahan baku obat yang mencapai 94% sangat mengganggu benak saya. Kemandirian obat dan vaksin adalah pilar utama ketahanan nasional," kata Taruna Ikrar dalam keterangan resminya, Jumat (17/7/2026).
"Kita belajar dari pandemi COVID-19, ketika pasokan global terhambat, rakyat yang menanggung risikonya. Oleh karena itu, kehadiran produk lokal ini adalah langkah luar biasa untuk memutus ketergantungan tersebut," tambahnya.
Menurut Taruna, BPOM memberikan dukungan terhadap pengembangan vaksin nasional melalui mekanisme registrasi jalur khusus untuk obat pengembangan baru dengan target penyelesaian dalam 100 hari kerja. Sebelum izin edar diterbitkan pada 2023, Bio-TCV telah melalui penilaian menyeluruh terhadap aspek mutu, keamanan, dan khasiat.
Selain proses registrasi, BPOM juga melakukan pengawasan dari tahap penelitian hingga produk beredar di masyarakat. Pengawasan tersebut mencakup pelaksanaan uji klinik di Indonesia, pemenuhan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), pemantauan sistem rantai dingin (cold chain), hingga farmakovigilans untuk memantau keamanan vaksin setelah digunakan.
Berdasarkan data BPOM periode Januari 2025 hingga Juli 2026, vaksin Bio-TCV telah diproduksi sebanyak dua bets atau 84.719 vial. Sementara data PT Bio Farma per 13 Juli 2026 mencatat total produksi mencapai 208.235 dosis, dengan 30.875 dosis di antaranya telah didistribusikan.
BPOM juga melakukan pengambilan sampel vaksin yang telah beredar untuk kembali diuji di laboratorium Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN). Langkah tersebut dilakukan guna memastikan mutu produk tetap terjaga selama proses distribusi.
Peluncuran Bio-TCV dilakukan di tengah masih tingginya kasus demam tifoid di Indonesia. Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan, sepanjang 2025 tercatat sekitar 914 ribu kasus suspek tifoid. Sementara hingga pekan ke-16 tahun 2026, jumlahnya telah mencapai 266.869 kasus sehingga menempatkan tifoid sebagai salah satu dari lima penyakit dengan kasus tertinggi dalam sistem pemantauan tersebut.
Ketua Panitia Med-Expo FKUI 2026 Mohammad Kurniawan mengatakan, keberhasilan menghadirkan vaksin tifoid produksi dalam negeri menunjukkan pentingnya kolaborasi antara dunia akademik, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam menjawab tantangan kesehatan nasional.
"Indonesia menghadapi tantangan kesehatan yang kompleks, mulai dari beban ganda penyakit hingga tuntutan resiliensi vaksin. Tidak ada satu sektor pun yang bisa bergerak sendiri, kita butuh sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Peluncuran One Health Indonesia Ecosystem dan Vaksin Bio-TCV hari ini adalah bukti nyata keberhasilan kolaborasi tersebut," katanya.
Secara medis, hasil uji klinik menunjukkan vaksin Bio-TCV memiliki efikasi dan keamanan yang baik. Hampir seluruh peserta uji klinik, mulai dari bayi, anak hingga dewasa, mengalami peningkatan kadar antibodi hingga empat kali lipat dibandingkan sebelum vaksinasi dan bertahan hingga satu tahun.
Vaksin ini juga telah disetujui untuk diberikan kepada bayi mulai usia enam bulan hingga orang dewasa dengan dosis tunggal 0,5 mL melalui injeksi intramuskular.
Editor: Muhammad Sukardi