Wakil Ketua MPR Jemput TKI Bebas dari Hukuman Mati di Bandara Soetta Sore Ini

Abdul Rochim ยท Senin, 06 Juli 2020 - 09:58 WIB
Wakil Ketua MPR Jemput TKI Bebas dari Hukuman Mati di Bandara Soetta Sore Ini

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid. (Foto: iNews.id/Abdul Rochim)

JAKARTA, iNews.id - Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Etty Binti Toyib bebas dari hukuman mati atas tuduhan meracuni majikan setelah Pemerintah membayar diyat (uang darah). Etty Binti Toyib yang dipenjara sejak 2002 akan tiba hari ini di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengatakan, dirinya akan menyambut kepulangan Eti di Ruang VIP Terminal III Bandara Soetta. "Nanti sore jam 4 (16.00 WIB) saya selaku Wakil Ketua MPR dan Wakil Ketua Umum PKB akan menjemput Etty Bin Toyib di Bandara Soekarno Hatta," katanya di Jakarta, Senin (6/7/2020).

Jazilul menuturkan, pembayaran diyat untuk Eti mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

"Mulanya ahli waris majikannya meminta diyat sebesar 30 juta real atau Rp107 miliar agar diampuni dan tidak dieksekusi. Tapi setelah ditawar-tawar akhirnya dengan berbagai pendekatan akhirnya ahli warisnya bersedia dengan diyat sebesar Rp15,2 miliar," tuturnya.

Jazilul mengungkapkan, Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar yang memprakarsai penggalangan dana bersama LAZISNU. Wakil Ketua Umum DPP PKB ini lantas menceritakan kronologi kasus yang dialami perempuan asal Desa Cidadap Kecamatan Cingambul Kabupaten Majalengka itu.

Etty Toyib Anwar divonis hukuman mati qishash berdasarkan Putusan Pengadilan Umum Thaif No. 75/17/8 tanggal 22/04/1424H (23/06/2003M) yang telah disahkan Mahkamah Banding dengan Nomor 307/Kho/2/1 tanggal 17/07/1428 dan telah disetujui Mahkamah Agung dengan Nomor 1938/4 tanggal 2/12/1429 H karena membunuh majikannya warga negara Arab Saudi, Faisal bin Said Abdullah Al Ghamdi dengan cara diberi racun.

Tiga bulan setelah Faisal Bin Said Abdullah Al Ghamdi meninggal dunia, seorang WNI bernama EMA atau Aminah (pekerja rumah tangga di rumah sang majikan) memberikan keterangan bahwa Etty Toyib telah membunuh majikan dengan cara meracun. Pembicaraan tersebut direkam seorang keluarga majikan.

Rekaman tersebut diperdengarkan penyidik saat mengintrogasi Etty Toyib Anwar pada 16 Januari 2002 malam. Usai pemeriksaan tersebut, Etty Toyyib mengaku telah membunuh majikannya.

Dalam pembebasannya, Pemerintah Indonesia dengan dukungan berbagai pihak akhirnya membebaskan Etty dari hukuman mati dengan patungan membayar uang denda sebesar Rp15,2 miliar. Kasus Etty terjadi sejak 2001 dan sudah menjalani masa penahanan selama 19 tahun. "Jadi ini prosesnya sangat panjang," kata Jazilul.

Sebelumnya, Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel mengatakan, dana Rp12,5 miliar tersebut dihimpun LAZISNU selama 7 bulan dari para dermawan santri, dari kalangan pengusaha, birokrat, politisi, akademisi, dan komunitas filantropi. Termasuk dari Pemprov Jawa Barat.

Editor : Djibril Muhammad