Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Wamenkes Bantah Layanan Psikolog di Puskesmas Tak Lagi Dicover BPJS: Itu Hoaks!
Advertisement . Scroll to see content

Wamenkes Ungkap Data Mengejutkan, 14,8 Persen Perempuan Alami Gangguan Kesehatan Jiwa

Jumat, 04 September 2026 - 16:38:00 WIB
Wamenkes Ungkap Data Mengejutkan, 14,8 Persen Perempuan Alami Gangguan Kesehatan Jiwa
Berdasarkan data nasional dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 14,8 persen perempuan mengalami gangguan kesehatan jiwa, sedangkan laki-laki berada di kisaran 13 persen. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

Dante menjelaskan, gangguan kesehatan jiwa tidak hanya dialami kelompok tertentu. Masalah tersebut dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa muda, dewasa hingga lansia.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, proporsi masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan pada berbagai kelompok usia berada di kisaran 10 hingga 17 persen dari populasi. Kondisi ini menunjukkan persoalan kesehatan mental menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.

“Di tempat kita, berdasarkan data yang sudah kita lihat dan di WHO, itu perempuan sedikit lebih banyak, 14,8. Laki-laki yang mengalami kelainan jiwa itu sekitar 13 koma sekian. Dan grafik yang warna hijau itu menunjukkan kelompok usia: anak, remaja, dewasa muda, dewasa, dan lansia. Kurang lebih angkanya sekitar 10 sampai 17 persen dari populasi itu kalau dibagi kelompok usia mengalami kelainan kejiwaan,” katanya.

Selain itu, Dante menyebut sekitar satu dari tujuh orang di dunia hidup dengan gangguan kejiwaan. Angka tersebut lebih besar dibandingkan diabetes yang berada di kisaran satu dari delapan orang.

Menurut dia, tingginya angka tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk memperkuat perhatian terhadap kesehatan mental. Deteksi gangguan kejiwaan sejak dini menjadi salah satu langkah yang terus didorong.

Penanganan lebih awal diharapkan dapat mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat. Upaya tersebut juga penting untuk meminimalkan risiko percobaan bunuh diri serta meningkatkan kualitas hidup penderita.

Pemerintah juga terus mendorong evaluasi layanan kesehatan jiwa agar penanganannya dapat menjangkau berbagai sektor. Dengan demikian, persoalan kesehatan mental diharapkan tidak lagi dipandang sebelah mata dan mendapat perhatian yang setara dengan kesehatan fisik.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut