Yenny Wahid Jadi Presiden Federasi Perempuan se-Asia Tenggara, Indonesia Pimpin ACWO 2027–2029
"ASEAN tidak akan benar-benar maju apabila perempuan masih kesulitan mengakses kesempatan ekonomi, anak-anak kehilangan kesempatan pendidikan, dan para lansia harus menghadapi masa tua tanpa perlindungan yang memadai," lanjutnya.
Kepemimpinan ACWO periode 2027–2029 juga menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat kembali peran historisnya dalam gerakan perempuan internasional.
KOWANI memiliki sejarah panjang sejak Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 1928, menjadi anggota International Council of Women sejak 1973, dan turut memprakarsai pembentukan ACWO pada 1981.

Yenny menyampaikan apresiasi kepada Vietnam atas kepemimpinannya pada periode sebelumnya dan menyatakan komitmen untuk memperkuat solidaritas antarorganisasi perempuan di kawasan.
"Kami ingin membangun ASEAN yang bukan hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi. ASEAN yang menghormati para lansianya, melindungi perempuan dan anak-anaknya, serta memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk berkembang," ujarnya.
"Karena ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya seberapa tinggi gedung yang dibangun atau seberapa cepat ekonominya tumbuh, tetapi juga bagaimana bangsa itu memperlakukan mereka yang paling rentan," pungkas Yenny.
Editor: Muhammad Sukardi