Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Terkait Keamanan, Ini Alasan Motor Listrik Polytron Pilih Gunakan Baterai LFP
Advertisement . Scroll to see content

Ada 58 Merek Motor Listrik tapi Baterai Berbeda-beda, Indonesia Belum Punya Standar

Sabtu, 31 Januari 2026 - 23:05:00 WIB
Ada 58 Merek Motor Listrik tapi Baterai Berbeda-beda, Indonesia Belum Punya Standar
Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia dinilai belum dibarengi standar baterai yang jelas dan kuat. (Foto: AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia dinilai belum dibarengi standar baterai yang jelas dan kuat. Founder National Battery Research Institute (NBRI), Profesor Evvy Kartini mengungkapkan fakta mengejutkan saat ini terdapat sedikitnya 58 merek motor listrik di Tanah Air menggunakan baterai berbeda-beda tanpa standar nasional.

Menurut Profesor Evvy, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena hampir seluruh baterai motor listrik masih diimpor. Lebih mengkhawatirkan lagi, kandungan material di dalam baterai tersebut belum sepenuhnya diketahui apakah aman bagi pengguna maupun lingkungan.

“Bicara kendaraan listrik itu tidak bisa dilepaskan dari baterai. Intinya EV adalah baterai. Tapi sekarang ada 58 brand motor listrik, semuanya pakai baterai sendiri-sendiri, tidak ada standar,” ujar Profesor Evvy dalam seminar di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Sebagai pakar baterai, Profesor Evvy Kartini yang juga peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Indonesia seharusnya fokus pada pengembangan riset dan produksi baterai secara mandiri. Langkah tersebut dinilai krusial untuk menjamin keamanan, efisiensi, serta keberlanjutan industri kendaraan listrik nasional.

Dia menyoroti ketergantungan pada baterai impor yang tidak disertai pemahaman menyeluruh mengenai kandungan kimia di dalamnya. Menurutnya, tanpa standar dan pengawasan ketat, potensi bahaya seperti risiko kebakaran, pencemaran lingkungan, hingga limbah beracun bisa menjadi bom waktu.

Profesor Evvy membandingkan kondisi Indonesia dengan Malaysia. Dia menyebut Malaysia justru telah berhasil mengembangkan baterai kendaraan listrik buatan sendiri 100 persen. Ironisnya, sebelum mencapai tahap tersebut, Malaysia sempat belajar dari Indonesia.

“Dikira cuma omon-omon, Malaysia sudah bisa bikin baterai sendiri, 100 persen. Padahal dulu mereka belajar dari Indonesia,” katanya.

Di sisi lain, Indonesia saat ini memiliki pabrik baterai, salah satunya milik Hyundai. Namun, keterlibatan pemerintah dinilai masih terbatas. Dalam kerja sama dengan perusahaan baterai asal China, CATL, pemerintah Indonesia disebut hanya memiliki saham sekitar 30 persen.

Menurut Profesor Evvy Kartini, kondisi ini menunjukkan Indonesia belum sepenuhnya berdaulat dalam industri baterai nasional. Padahal, Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah yang menjadi bahan baku utama baterai, seperti nikel.

Meski demikian, dia menegaskan Indonesia belum terlambat untuk mengejar ketertinggalan. Dia siap membantu pemerintah dan industri untuk membangun ekosistem riset dan produksi baterai nasional yang kuat dan mandiri. “Ayo, kita belum terlambat. Saya siap bantu,” ujar Profesor Evvy.

Dia berharap pemerintah segera menetapkan standar baterai kendaraan listrik nasional, memperkuat riset dalam negeri, serta meningkatkan peran negara dalam industri strategis baterai. Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar, melainkan juga produsen dan inovator kendaraan listrik di masa depan.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut