AI Lebih Bahaya dari Nuklir, BMW Atur Ketat Penggunaan Kecerdasan Buatan

Dani M Dahwilani ยท Kamis, 15 Oktober 2020 - 06:15 WIB
AI Lebih Bahaya dari Nuklir, BMW Atur Ketat Penggunaan Kecerdasan Buatan

Teknologi kecerdasan buatan dianggap sesuatu yang membuat banyak orang takut, BMW terapkan tujuh prinsip penggunaan Artificial Intelligence (AI). (Foto: Carscoops/BMW)

MUNICH, iNews.id - Artificial Intelligence (AI), alias teknologi kecerdasan buatan adalah sesuatu yang membuat takut banyak orang. Ini setelah Bos Tesla Elon Musk mengatakan AI jauh lebih berbahaya daripada nuklir bagi spesies manusia.

Maklum, AI bak dalam film fiksi ilmiah bisa menguasai sistem di dunia maya. Untuk itu, perlu ada batasan agar tetap berada di bawah kendali manusia.

Ini menjadikan beberapa orang waspada dengan kehadiran dan kekuatan AI yang terus meningkat. Namun, di sisi lain perusahaan menerima manfaat yang dibawanya dengan memberikan banyak kemudahan. 

BMW Group menyikapinya dengan hati-hati. Mereka mengatakan AI sudah banyak digunakan dalam perusahaan dengan lebih dari 400 kasus penggunaan di seluruh jaringan. Namun, pembuat mobil Jerman itu berupaya menjaga AI tetap terikat dengan menetapkan batasan tertentu untuk penggunaannya.

Lebih spesifiknya, BMW Group telah membuat kode etik penggunaan kecerdasan buatan. “Kami melanjutkan dan berhati-hati dalam perluasan aplikasi AI di dalam perusahaan. Prinsip AI di BMW Group memberikan dasar bagi pendekatan kami," ujar Kepala Project AI Michael Würtenberger.

BMW Intelligent Personal Assistant adalah salah satu dari lebih dari 400 aplikasi AI yang digunakan perusahaan. Sementara kecerdasan buatan adalah teknologi kunci dalam proses transformasi digital.

BMW mengatakan fokusnya tetap pada manusia, dengan peran AI untuk mendukung karyawan dan meningkatkan pengalaman pelanggan. Meski begitu, BMW Group dan Komisi Eropa terlibat dalam membentuk dan mengembangkan aturan bekerja dengan AI.

Produsen mobil tersebut telah menyusun tujuh prinsip dasar penggunaan AI di dalam perusahaan, yang dibangun berdasarkan persyaratan mendasar yang dirumuskan UE untuk AI yang dapat dipercaya. 

Prinsip-prinsip tersebut akan terus disempurnakan dan diadaptasi seiring penerapan AI di seluruh perusahaan.

Asas pertama dan mungkin yang paling penting adalah hak pilihan dan pengawasan manusia.  Ini berarti BMW Group mengimplementasikan pemantauan manusia atas keputusan yang dibuat aplikasi AI dan mempertimbangkan kemungkinan cara manusia dapat mengesampingkan keputusan algoritmik.

Prinsip kedua, ketangguhan dan keamanan teknis. Ini adalah tentang mengembangkan aplikasi AI yang kuat dan mematuhi standar keselamatan berlaku untuk mengurangi risiko konsekuensi dan kesalahan yang tidak diinginkan.

Tata kelola privasi dan data.adalah prinsip ketiga yang mengacu pada BMW yang memperluas privasi datanya dan langkah-langkah keamanan data mencakup penyimpanan dan pemrosesan dalam aplikasi AI.

Prinsip keempat adalah "Transparansi". BMW Group bertujuan menjelaskan aplikasi AI dan komunikasi terbuka di mana masing-masing teknologi digunakan.

Prinsip kelima, keragaman, non-diskriminasi, dan keadilan. Ini didasarkan pada fakta BMW Group menghormati martabat manusia dan karenanya menetapkan untuk membangun aplikasi AI yang adil.  Ini termasuk mencegah ketidakpatuhan aplikasi AI.

Keenam, lingkungan dan kesejahteraan sosial. Ini adalah prinsip lain yang mengikat BMW untuk mengembangkan dan menggunakan aplikasi AI mempromosikan kesejahteraan pelanggan, karyawan, dan mitra. 

Prinsip terakhir "Akuntabilitas". Menetapkan aplikasi AI harus berfungsi dengan bertanggung jawab. “BMW Group akan mengidentifikasi, menilai, melaporkan dan memitigasi risiko, sesuai dengan tata kelola perusahaan yang baik,” kata perusahaan.

Editor : Dani Dahwilani