Banyak Pabrik Berbasis di China, Virus Korona Guncang Otomotif Dunia

Dani M Dahwilani ยท Minggu, 09 Februari 2020 - 08:17 WIB
Banyak Pabrik Berbasis di China, Virus Korona Guncang Otomotif Dunia

Wabah virus korona di China diperkirakan memiliki efek jangka panjang bagi pasar otomotif global. (Foto: Carscoops)

WUHAN, iNews.id - Wabah virus korona di China diperkirakan memiliki efek jangka panjang bagi pasar otomotif global. Ini karena banyak pusat produksi dan rantai pasokan dibangun di China

Sebelum virus korona merebak, penjualan mobil di China turun selama dua tahun berturut-turut karena ekonomi melambat dan dihapusnya insentif pajak untuk mobil listrik. Kini, dengan penyebaran virus mematikan, banyak produsen besar menutup pabrik sampai minggu depan ketika pemerintah China berjuang melawan serangan penyakit tersebut.

Dilansir dari Carscoops, Minggu (9/2/2020), S&P Global Ratings percaya wabah ini akan memaksa produsen mobil di seluruh Asia memangkas produksi sekitar 15 persen pada kuartal pertama. Perusahaan dengan pabrik-pabrik di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, pusat virus, seperti GM, Nissan, Renault, Honda, dan PSA Group, merupakan 9 persen dari total produksi di China.

Volkswagen juga berisiko karena mengoperasikan 24 pabrik yang memproduksi mobil atau suku cadang di China, yang jumlahnya tidak kurang dari 40 persen dari produksi global. Untuk saat ini, pembuat mobil mengatakan pengiriman yang direncanakan kepada pelanggan belum berubah. Namun, bila krisis berlanjut akan semakin besar kemungkinan rantai pasokan mobil global rusak.

Pemasok otomotif besar seperti Bosch, Schaeffler, ZF Friedrichshafen, Faurecia, dan Valeo semuanya memiliki basis operasi di China. Awal pekan ini, Hyundai membuat keputusan drastis menunda produksi di pabrik-pabrik Korea Selatan karena virus korona memengaruhi pasokan suku cadang dari China.

"Bahkan industri yang tampaknya memiliki eksposur rendah ke pemasok di China hampir pasti sangat bergantung pada input dari China," kata ekonom global Capital Economics Simon MacAdam.

“Ini membuat kemacetan dalam produksi satu komponen bernilai rendah, tetapi penting untuk membuat produksi hilir bernilai lebih tinggi berhenti,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi menyebutkan jika penyebaran virus korona terus berlanjut bisa berdampak pada industri otomotif nasional terkait ekspor dan impor. "Jika berlarut, pastinya ini akan berdampak pada industri otomotif Indonesia," katanya.


Editor : Dani Dahwilani