Kecelakaan Maut di Balikpapan, Pengamat Pertanyakan Kompetensi Sopir di Indonesia

Dani M Dahwilani ยท Jumat, 21 Januari 2022 - 14:20:00 WIB
Kecelakaan Maut di Balikpapan, Pengamat Pertanyakan Kompetensi Sopir di Indonesia
Praktisi Road Safety dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menilai kecelakaan maut di Balikpapan harus menjadi perhatian serius. (Foto: Twitter/TMC)

JAKARTA, iNews.id - Kecelakaan maut truk tronton berpelat nomor KT-8534-AJ di lampu merah Muara Rapak, Jalan Soekarno-Hatta, Balikpapan, Kalimantan Timur, mengakibatkan lima orang tewas dan 14 lainnya luka-luka. Praktisi Road Safety dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menilai, ini harus menjadi perhatian serius semua pihak.

Menurutnya, peristiwa ini selalu berulang karena tidak ada keseriusan dari stakholder, yaitu pemerintah dan pengusaha transportasi untuk membangun kompetensi pengemudi. Menurutnya, kecelakaan ini tidak semata-mata akibat rem blong tapi jauh lebih luas.

"Bicara pengalaman mereka tentu memiliki pengalaman tinggi. Namun, belum tentu memiliki kompetensi. Orang bisa terampil, berpengalaman beberapa puluh tahun. Tapi, dia sekadar terampil. Dia terampil kerena biasa bukan kompeten. Ada jenjang yang harus dilalui untuk menjadi sopir yang kompeten," ujarnya, saat dikonfirmasi iNews.id, Jumat (21/1/2022).  

Apa saja itu? Justri menjelaskan, untuk menjadi sopir yang kompeten pertama harus mengetahui kondisi kendaraan dengan benar; Kedua, memiliki keterampilan dalam mengemudi; Ketiga tertib dalam berlalu lintas; dan menguasai teknis berkendara.

"Perilaku preventive, terampil (benar, aman), tertib, antisipatif dan berbagi menjadi kunci kelancaran, kenyamanan, keamanan dan keselamatan saat di jalan raya! Semua ini dibentuk melalui pelatihan dan uji kompetensi. Jadi mereka yang boleh mengemudi adalah yang kompeten," kata Jusri.

Dia menegaskan sopir kendaraan komersial di Indonesia tidak berangkat dari pelatihan. Ini karena tidak ada infrastruktur atau fasilitas bagi pengemudi untuk mendapatkan sertifikasi. Ini dibutuhkan keseriusan dari pemerintah dan pelaku usaha transportasi.

Editor : Dani M Dahwilani

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: