Kenapa Pengemudi SUV Besar Kerap Arogan? Begini Kata Psikolog
JAKARTA, iNews.id – Kasus pengemudi sport utility vehicle (SUV) bersikap arogan kembali terjadi dan menjadi perhatian publik. Kali pengemudi SUV Toyota Fortuner mengintimidasi Honda Brio dengan menggunakan senjata dan menabrakkan mobil korban.
Menanggapi kasus pengemudi SUV besar kerap arogan, psikolog Meity Arianty STP M.Psi mengungkapkan perilaku tersebut terjadi di alam bawah sadar pengemudi SUV merasa paling besar. Ini memicu mereka kerap bersikap arogan dan mengintimidasi kendaraan lebih kecil.
“Ada penelitian yang pernah dilakukan Profesor Psikologi Universitas Helsinki, tahun 2012 yang mengamati pengemudi mobil mewah cenderung egois. Mereka merasa menjadi kelas atas dan mobil mewah adalah symbol kasta atau kelas sosial tinggi,” ujar Meity saat dihubungi jurnalis, Selasa (14/2/2023).
Kasus tersebut menambah rentetan buruk pengemudi di Indonesia yang belum bisa menjaga emosi mereka. Meity menyebutkan mereka yang mengendarai SUV berukuran besar merasa jalan adalah milik mereka.
“Mereka merasa jalan milik mereka. Cara mereka kadang kurang etis dalam meminta jalan ke pengendara laian. Bahkan, seringkali meminta pengguna jalan lain menyingkir dengan cara kasar,” katanya.
Akademisi Universitas Gunadarma itu juga menyayangkan tak ada penindakan tegas dari aparat penegak hukum kepada pengemudi SUV yang arogan. Terutama mereka yang menggunakan nomor pelat khusus dan memakai lampu strobo.
Hal tersebut menimbulkan gejolak dalam diri mereka untuk terus melakukan itu karena merasa dirinya memiliki kekuatan lebih besar dibandingkan pengendara lain. Ini yang diakui Meity akan berbahaya apabila dibiarkan.
“Bisa jadi sebab secara psikologis pengendara itu merasa memiliki kedudukan atau power, baik yang menggunakan mobil mewah, pelat instansi angkatan, pelat merah, atau yang sedang konvoi atau beriringan,” ucapnya.
Untuk itu, Meity memperingatkan untuk tetap menjaga emosi dan mengendalikan diri selama berkendara. Menurutnya, karakter seseorang juga dapat dilihat dari cara mereka mengemudi di jalan raya.
“Pengendara yang egois, arogan, pemarah, kurang sabar, dan tidak dapat mengontrol diri saat di jalan menandakan tergerusnya dagradasi moral. Padahal, dengan mengemudi seperti itu, bukan hanya mengancam jiwa sendiri, namun pengendara lain yang ada di jalan raya,” katanya.
Editor: Dani M Dahwilani