Kibarkan Merah Putih di Rally Dakar, Julian Johan Tantang Ganasnya Gurun Arab Saudi
Meski Rally Dakar pertama kali digelar pada akhir 1978, ajang ini bukan hal asing bagi Jeje. Selama bertahun-tahun, dia mengikuti setiap denyut Dakar lewat dunia maya. Namun kali ini, ceritanya berbeda. Dia tak lagi sekadar penonton, melainkan pelaku yang siap merasakan langsung lonjakan adrenalin di tengah gurun.
“Memang Rally Dakar ini semuanya serba baru bagi saya. Mulai dari mobil yang digunakan, kemudian cuaca serta iklim yang harus dilalui. Tetapi bicara persiapannya lebih ke arah bagaimana caranya atau teknik untuk bisa mengemudikan mobil di permukaan pasir,” ujarnya.
Soal target, Jeje memilih berpijak di tanah yang realistis. Dia sadar debut di Dakar bukan panggung untuk sesumbar. Fokusnya sederhana, tetapi sarat makna.
“Debut ini rasanya terlalu berlebihan atau terkesan sombong jika saya menargetkan juara, jadi kembali lagi yang saya targetkan adalah setiap harinya bisa berjalan dengan lancar, saya bisa mencapai finish setiap hari dengan keadaan kendaraan utuh, minim kerusakan, serta semua tim dalam keadaan baik,” katanya.
Persiapan pun tak main-main. Selain pemahaman teknis dan strategi balap, Jeje membawa perlengkapan tambahan bernuansa survival demi menjaga performa dan keselamatan. Pengalamannya di Asia Cross Country Rally (AXCR) 2023 dan 2024 turut menjadi bekal penting, terutama soal rescue dan recovery mobil.
“Jadi untuk untuk mengantisipasi beberapa hal pada saat balapan nanti, saya mencoba untuk lebih mempersiapkan lagi dengan barang-barang bawaan yang bersifat survival, seperti obat-obatan, perlengkapan camping, serta berbekal pengetahuan rescue atau recovery mobil juga rupanya sangat berguna. Hal ini saya rasakan ketika sesi latihan sebelumnya, dan benar-benar pengetahuan tersebut sangat berguna,” ujar Jeje.
Kini, dengan bendera Merah Putih di dada dan tekad membara, Julian Johan siap menuliskan bab baru sejarah Indonesia di Rally Dakar. Gurun boleh kejam, lintasan boleh menggila, tetapi nyali Jeje siap diuji di panggung paling ekstrem dunia.
Editor: Dani M Dahwilani