Mobil China Diizinkan Masuk Bangun Pabrik di Amerika, GM, Ford dan Stellantis Menolak
JAKARTA, iNews.id - Tiga produsen mobil besar Amerika Serikat (AS), General Motors (GM), Ford dan Stellantis, menolak gagasan Presiden Donald Trump membuka peluang bagi mobil China membangun pabrik di Amerika Serikat (AS). Mereka khawatir dampak masuknya produsen mobil China terhadap industri otomotif AS.
Sebelumnya, Trump mengatakan membuka pintu terhadap produsen mobil China yang ingin membangun pabrik di AS, selama mereka mempekerjakan pekerja Amerika. "Jika China ingin datang dan membuka pabrik untuk membangun mobil mereka di sini, saya akan setuju," kata Trump.
Trump membandingkan rencana tersebut dengan produsen mobil Jepang yang telah mengoperasikan fasilitas produksi di AS. Menurutnya, hal terpenting adalah perusahaan tersebut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Amerika.
Namun, American Automotive Policy Council yang mewakili GM, Ford, dan Stellantis di Washington memiliki pandangan berbeda. Presiden dewan, Matt Blunt menilai produsen mobil China memperoleh keuntungan dari subsidi negara, manipulasi mata uang, serta berbagai keuntungan non-pasar lainnya.
Blunt menilai masuknya produsen China ke pasar AS tanpa mengatasi faktor tersebut dapat merugikan produsen mobil domestik, pekerja, dan konsumen.
Perbedaan pandangan ini juga muncul di tengah kritik pemerintah AS terhadap hubungan Ford dengan perusahaan China. Menteri Transportasi AS Sean Duffy sebelumnya mengkritik kemitraan Ford dengan raksasa baterai China, CATL dan Geely.
Duffy menuding Ford mengaitkan masa depannya dengan perusahaan China yang didukung negara. Pada saat yang sama, Trump justru membuka peluang bagi perusahaan China untuk membangun fasilitas produksi mereka sendiri di AS.
Persaingan dengan produsen mobil China menjadi perhatian industri otomotif global. Merek-merek China dilaporkan telah menguasai sekitar 20 persen pasar mobil baru di Meksiko, sementara Kanada bersiap menerima sejumlah kendaraan buatan China dengan tarif yang lebih rendah.
Perusahaan konsultan AlixPartners memperkirakan merek otomotif China dapat menguasai sekitar 30 persen pasar otomotif global pada 2030.
CEO Ford Jim Farley juga secara terbuka mengakui tantangan dari produsen China. Dia bahkan menggunakan Xiaomi SU7 selama beberapa bulan untuk memahami lebih jauh teknologi dan produk kendaraan listrik asal China tersebut.
Farley menilai mobil listrik Xiaomi SU7 memiliki kualitas tinggi dan pengalaman digital yang sangat baik.
Rencana Trump membangun pabrik mobil China di AS berpotensi menciptakan lapangan kerja bagi pekerja Amerika. Namun, bagi GM, Ford, dan Stellantis, persoalan persaingan tidak hanya ditentukan oleh lokasi perakitan kendaraan.
Ketiga produsen tersebut menyoroti keunggulan finansial dan strategis yang dimiliki produsen mobil China.Sebab itu, perdebatan mengenai mobil China di AS kini tidak hanya menyangkut produksi di dalam negeri, tetapi juga kemampuan produsen Amerika bersaing di pasar global.
Editor: Dani M Dahwilani